Saya selalu penasaran dengan banyak hal. Kepada orang-orang, ikan di kolam, hingga kehidupan di pedalaman. Rasa penasaran ku acap kali mengantar kaki ini melangkah jauh, menaiki pegunungan hingga menyelam di lautan. Tapi tetap saja penasaran.
Rasa penasaran kadang juga membuat tanyaku menjadi-jadi. Kenapa harus ada dokter kalau hidup dan mati ditangan Tuhan, atau kenapa pula ada namanya takdir kalau segela sesuatunya masih bisa dirubah. Ah, bodohnya aku.
Akhir pekan lalu, karena penasaran, kaki ini untuk pertama kalinya ku injakkan di Tana Towa Kajang, Bulukumba Sulawesi Selatan. Kawasan adat serba hitam yang ogah berurusan dengan negara dan tetap kekeh menjalankan kebiasaan kuno.
Cerita mistis yang menyertai kawasan ini adalah magnet paling besar yang mendorong menjelajahi Kajang, sendirian dengan uang pas-pasan. Selama tiga hari disana, bukannya puas malah kian penasaran. Mengapa harus hitam, sampai lapisan baju paling dalam atau kenapa pula Amma Toa tak lagi kerja di ladang.
Okelah, hitam itu lambang kesederhanaan. Tapi menjadi sederhana bukan berarti harus menggunakan hitam seterusnya. Lupakan soal makna misteriusnya, hitam itu kadang juga bersimbol elegan dan mewah. Nah loh! (Padahal saya pun pencinta hitam hehehe)
Bagi sebagian orang, rasa penasaran adalah penyakit menjengkelkan. Jika rasa itu timbul, tidak ada kata berhenti untuk mencari tahu. Pernah suatu waktu, karena penasaran melihat tulisan enter here di tembok taman bermain, aku harus menanggung malu bermandikan terigu.
Untungnya efek malu-maluin tidaklah selalu menyertai rasa penasaranku. Bahkan sering kali karena penasaran, hal baru dan ilmu baru ku dapatkan. Sama seperti tulisan ini, lahir dari rasa penasaran, bagaimana jadinya kalau saya menulis tentang penasaran, bagus kah atau malah tambah penasaran.
Penasaran itu adalah bakat alamiah, sejak lahir naluri ini timbul seiring kian banyaknya benda dan persoalan hidup kita hadapi. Tapi banyak orang malah mengubur rasa penasarannya lantaran telah nyaman dengan hidupnya kini. Padahal, rasa penasaran itu candu yang akan terus menggairahkan kehidupan.
Saya meninggalkan pekerjaan nyaman dan memilih kerjaan lain lantaran penasaran. Saya pun menikah karena mau tau rasanya jadi orang tua, hingga saya mendaki Latimojong karena mau tau rasanya dipuncak tertinggi Sulawesi, dan banyak hal lain yang saya lakukan dalam hidup dimulai dari penasaran.
Jangan kau pikir rasa penasaran ku selalu tentang kebaikan, banyak juga hal-hal negatif. Sebut saja minuman beralkohol, bagaimana rasanya mabuk, tergeletak di jalan, hingga rasanya bangun pagi di kamar mandi, bahkan .... (titttt sementara waktu).
Saya tak pernah mau membatasi diri dalam hal penasaran. Rasa ini membuat kita lebih peka dan memberi alasan di setiap nafas yang kita hembuskan. Hanya ingat, untuk hal-hal negatif, cukup tahu saja, jangan sampai membentuk kebiasaan. Bisa susah meninggalkannya. ***
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!