Aku selalu sulit mendiskipsikan satu bentuk. Bagiku mereka sama, hidup dan mati pun tak ada bedanya. Tapi manusia selalu punya naluri yang tak dinyala selalu hadir dalam bentuk imajinasi.
Jika kau hadir saat ini, mungkin akan lebih mengerti apa yang tergambarkan disini. Di tepi kota, pintu masuk segala hal. Segala macam rupa, kehidupan dan penghidupan akan terpanpang jelas, seakan menampar hayalan menjadi ini dan itu. Ya, disini, di awal dan terakhir kita bertemu.
Jika kau lihat seorang ibu dengan segala kerapuhan usianya, melawan kantuk dan lelah hanya untuk melihat senyum pertama buah hati yang lama terpisah, akan kau sadari betapa indahnya kasih itu. Tulus nian hingga batin mu cemburu pada hidupmu yang penuh sesal.
Sederet muda mudi dengan seragam gagahnya juga akan menampar nasibmu, yang hanya mampu menyaksikan bangga dari wajah mereka. Mungkin inilah yang dikatakan cemburu, membayangkan dirimu disana, berseragam dan disambut haru saat keluar dari batas dunia. Mungkin itu aku dulu.
Tidak, dunia masih adil. Hingga tanpa kusadari ada yang asing disini. Aku yakin dari bentuknya, dia bukan dari kawanan kami. Terlalu mencolok dari kulitnya yang legam, rambut gimbal dan bertopi ala pemuda-pemuda New York. Duduk di sudut dengan secangkir kopi dengan mata mencari-cari.
Wanita dan tahta selalu jadi buruan jutaan manusia. Cantik benar rupa dia, seksi dengan mata binalnya. Seakan hidup itu tak adil, rupanya dia memilih yang kuduga. Dengan setarikan mata, laut luas menjadi sempit, sepasang kenalan baru itu menjauh dariku dengan cibiran rasis mempertontonkan materi sebagai bentuk segalanya. Aku ragu.
Sudahlah, ketidak adilan dunia tak ada habisnya. Bagi ku mereka sama, hidup dan mati pun tak ada bedanya. Tapi jiwaku bertanya, apakah aku dianggap sama bagi mereka. Pikir ku terhenti takkala kaki ku tersandung benda keras yang berlalu begitu saja. Maaf pun tak ada, lalu hilang, seakan tak ada aku disana. Ragu ku menjadi-jadi.
Kulihat jam dipintu keluar, 23:47. Kuiris lagi roti yang mulai mengeras, kopi yang mulai dingin dan rokok yang habis sekali isapan. Waktu semakin lama saja, membuat ku mati rasa di antara riuh yang membuncah. Kulihat langit di luar sana, masih hitam dan mesra pada hujan. Kuseruput lagi kopi ini, seteguk setelahnya makin mambuat hidupku optimis tak paham.
Yang kuduga tapi tak ku inginkan hadir dari cerobong suara dibalik celana. Tanyanya singkat mendesak lalu mendikte. Setelah itu hilang bersama kepulan asap kendaraan para borjuis. Selarian kelinci, nyaman berubah murka. Mengapa aku, mengapa harus ada pilihan, jika akhirnya keadilan hanya buat para pencari muka. Nafas ku tertahan, kopi dicangkir telah habis.
Jika kau tanyakan nurani, tentu aku butuh. Seperti sepasang kekasih di sudut ruang, dengan kunci BMW disamping sebungkus rokok. Minder tentu iya, tapi adik jangan malu. Kita akan menyusuri malam ini dengan motor, dengan bangga akan kutampar dunia penuh suka. Karna tulus mengalahkan segalanya.
Makassar 25 Desember 2013
di Bandara Sultan Hasanuddin
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!