Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

02 December 2013

Sulsel Naik ke Posisi 6 Penderita AIDS Terbanyak

Orang Dengan HIV-AIDS (Odha) masih menjadi monster menakutkan di masyarakat. Keberadaannya dikucilkan. Kondisi lokal yang belum mendukung bukannya membuat virus mematikan ini diam, malah semakin beringas dan memposisikan Sulsel di peringkat ke enam di Indonesia terbanyak penderita HIV-AIDS.

Sore itu, 29 November 2013 disebuah ruang meeting di Hotel Kenari Makassar tengah berlangsung pertemuan serius yang membicarakan persoalan HIV-AIDS di Sulsel. Tampak seorang wanita berperawakan tegas sedang berbicara dan sekali-kali menunjuk angka di slide show yang dipasang disebelah kanan podium.

Dialah Sri Endang Sukarsih, Kepala Biro Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) dan HIV-AIDS Sulsel, biro khusus dan spesifik menangani Odha pertama di Indonesia. Perempuan bergaya eksentrik tersebut telah memimpin Biro Napza sejak pertama kali dibentuk 2009 lalu hingga kini.

“Diskriminasi bagi Odha selalu menjadi tantangan terberat bagi kami,” kata Sri seusai mengisi acara selama tiga jam kepada penulis di sebuah ruangan lain di hotel itu.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel jumlah penderita HIV-AIDS di Sulsel melaju tinggi dari 4.583 di 2012 menjadi 7.147 orang hingga September 2013. Makassar sebagai ibu kota provinsi menjadi raja dengan penderita sebanyak 5.817 orang disusul Parepare 383, Gowa 124, Bulukumba 113 dan Palopo di urutan kelima sebanyak 75 orang.

Berdasarkan kelompok umur 60 % pengidap HIV dan AIDS berumur 25 – 49 tahun, 29% berumur 15-24 tahun. Sedangkan modus penularan melalui hubungan seksual beriseko 78,8%, pengguna jarum suntik 12,2%, tranfusi darah 5,7% dan dari ibu ke anak 3,3%.
Merujuk pada uraian kondisi saat ini, isu strategi terkait kasus Napza dan HIV/AIDS adalah isu gender, kemiskinan dan local wisdom (kearifan lokal). Kondisi ini menurut Sri makin mengkhawatirkan, walau disatu sisi laju pertumbuhan virus ini berkurang namun jumlah penderitanya bertambah.

Narkoba masih menjadi penyumbang terbesar suburnya HIV-AIDS. Dari rekapitulasi data sejak 2005 hingga September 2013, jumlah penderita HIV-AIDS dari penyalahgunaan narkoba sebanyak 2.587 kasus disusul heteroseksual 1.949 kasus, faktor lain-lain 1.528 kasus serta homo dan bixesual 309 kasus.

Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mendominasi hingga 67%, sementara penderita perempuan hanya 28%, 5% diantaranya masih belum diketahui. “HIV-AIDS ini ibarat gunung es, data yang kami miliki bisa jadi lebih besar dan sewaktu-waktu siap meledak,” Sri menggambarkan.

Ini tidak lepas dari masih malu dan terkucilkannya para penderita HIV-AIDS. Akibatnya, beberapa orang dengan gejala serangan HIV atau AIDS enggan memeriksakan diri ke lokasi pelayanan kesehatan terdekat. Hal ini memunculkan resiko telat diagnosis yang berujung pada terapi yang tidak segera diberikan.

"Padahal jika tahu infonya, penyakit AIDS tidak seharusnya memunculkan stigma negatif. Hal ini mengindikasikan info tentang AIDS harus dekat dengan masyarakat, agar stigma negatif itu hilang," ujar Jiji dari GIPA (Global Inklusif Perlindungan AIDS) yang getol memperjuangkan hak-hak Odha.

Jiji juga melihat masih adanya kesenjangan penanganan Odha berdasarkan jenis kelamin. Penderita perempuan selalu dipandang negatif. Padahal banyak kasus Odha perempuan bukan berasal dari mereka yang bekerja sebagai penjaja sexs. “Ibu rumah tangga paling beresiko menderita HIV-AIDS,” katanya.

Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan RI bekerja sama dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC) sudah sangat serius memberikan pemahaman kepada masyarakat akan penyakit ini. Olehnya itu beberapa waktu lalu keduanya meresmikan website khusus AIDS pertama di Asia Pasifik.

Website yang beralamat di www.aidsdigital.net itu memberikan semua informasi tentang HIV-AIDS secara lengkap. Bahkan di website itu juga menunjukkan lokasi-lokasi mana saja di seluruh Indonesia yang ada layanan kesehatan yang menyediakan uji dan pengobatan seputar HIV dan AIDS, misalnya tes HIV dan terapi ARV.

Memang telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah agar Odha tidak lagi dikucilkan. Rumah Singgah bagi penderita HIV-AIDS dan orang-orang ketergantungan napza di Sulsel telah dibuat. Balla’ta yang menampung orang-orang itu bahkan semakin remai penghuni setiap tahunnya.

1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia pun tiap tahun digelar dengan berbagai kegiatan. Tujuannya untuk mencegah penyebaran dan menyadarkan masyarakat bahwa AIDS tidak menular melalui udara sehingga penderitanya tak harus dihindari dan dikucilkan.

Tanpa kita sadari, setiap bulannya ada 200 orang di Sulsel yang terjangkiti HIV dan AIDS. Selain karena kekurangan informasi, moral yang buruk juga mendominasi. Sexs beresiko menjadi pilihan. Pada akhirnya, jumlah Odha yang meninggal makin tinggi dan semua itu dimulai dari coba-coba. ***

Sulsel Naik ke Posisi 6 Penderita AIDS Terbanyak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!