Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

02 December 2013

Jangan Malu Periksakan Gejala HIV-AIDS Anda!

Karena malu dan terkucilkan, banyak para penderita HIV-AIDS terlanjur parah saat hendak ditangani. Padahal gejala serangan HIV atau AIDS bisa diperiksa di lokasi pelayanan kesehatan terdekat, sehingga tidak memunculkan resiko telat diagnosis yang berujung pada terapi yang tidak segera diberikan.

Sebuah rumah dikawasan Tamalate Makassar cukup riuh siang itu. Sedikitnya 20 pemuda sedang asyik menyablong pekaian. Diantara mereka ada beberapa orang yang turut mengawasi. Sekali-kali interaksi terjadi, bahkan tak jarang turut serta memberi contoh.

Inilah Balla’ta. Rumah Singgah bagi para pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang aktif maupun pasif, serta korban Napza yang positif terkena HIV-AIDS. Balla’ta dibentuk oleh Biro Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) dan HIV-AIDS Sulsel dan beroperasi sejak 2012 lalu.

Kegiatan menyamblong merupakan salah satu yang diberikan secara rutin kepada penghuni rumah singgah itu.

Kepala Biro Napza Sulsel Sri Endang Sukarsih mengungkapkan, Balla’ta diperuntukkan bagi pengguna narkoba dan korban Napza untuk tempat edukasi dan pelatihan usaha mandiri. “Di sini mereka belajar untuk mandiri dan membiasakan berdiskusi,” kata Sri.

Ide membuat Balla'ta, menurut dia, muncul karena belum terbukanya para pengguna narkoba dan pengidap HIV-AIDS dalam lingkungan masyarakat. Diskriminasi yang dilakukan masyarakat umum kepada pengguna narkoba membuat mereka merasa malu dan minder.

Menurut Sri, keadaan seperti ini akan membuat mereka kehilangan semangat hidup. "Kami berusaha merangkul mereka dan menyibukkan mereka dengan kegiatan-kegiatan positif. Di Balla’ta juga kami menerima orang dari berbagai daerah, ini menjadi rumah yang hidup bagi mereka," ujarnya.

Keberadaan Balla’ta sedikit membantu penderita HIV-AIDS untuk terbuka dan berbagi dengan sesama. Namun, lagi-lagi kondisi masyarakat yang belum menerima keadaan mereka turut serta menyumbang tingginya angka kematian Orang-orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Sulsel tahun ini.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Rahmat Latief mencatat, sebanyak 330 ODHA meninggal dunia hingga September 2013. Angka ini naik dari 2012 yang hanya 286 orang. Jika diakumulasi dari 2010 hingga 2013, jumlah ODHA yang meninggal dunia di Sulsel sebanyak 924 orang.

“Dari jumlah estimasi ODHA di Sulsel sebanyak 7.198 orang, hanya 3.880 orang yang pernah masuk perawatan medis, ini pun jumlah yang terdata, yang belum bisa jadi lebih banyak,” katanya.

Dinas Kesehatan Sulsel sejauh ini telah membentuk 25 unit klinik Voluntary Counseling Test (VCT) diseluruh Sulsel. 15 unit klinik IMS (Infeksi Menular Seksual), klinik CST/PDP di 16 Rumah Sakit, layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PMTCT) 3 unit, serta klinik Manual Muscle Testing (MMT) 7 unit. Semuanya untuk layanan penderita HIV-AIDS.

Dinas Kesehatan sejauh ini tengah berupaya meningkatkan jangkauan pelayanan pada kelompok masyarakat berisiko tinggi, daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan serta bermasalah kesehatan. Semua upaya itu dilakukan untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Sisa keterbukaan bagi siapa saya yang mau memeriksakan diri atas gejala HIV-AIDS.

Walau dewasa ini telah banyak aksi sosial yang digelar sejumlah komunitas dan organisasi, tetap saja belum mampu membuat para epidemi HIV-AIDS terbuka.

Memang, obat permanen untuk HIV-AIDS belum ditemukan hingga sekarang. Namun dengan perawatan medis yang baik akan mendorong kurangnya angka kematian bagi penderita. Koodinator Persaudaraan Korban Napza Makassar Farid Satria menilai, sangat penting bagi penderita AIDS didampingi saat melakukan perawatan.

“Penyakit yang mereka idap membuat mereka juga didiskriminasi oleh tim medis, bukan hanya oleh masyarakat umum. Begitu tahu pasien mengidap AIDS, perlakuan mereka langsung berubah, padahal sebenarnya tidak perlu,” kata Farid yang juga Koordinator di Rumah Singgah Balla’ta.

Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini, pemerintah meminta keterlibatan pihak swasta dalam mengkampanyekan bahaya HIV-AIDS. Begitu pula dengan pengelolaan Balla’ta sebagai tempat rehabilitasi, diharapkan akan lebih banyak pihak yang terlibat.

Di Makassar sejumlah kegiatan dilakukan dalam memperingati Hari AIDS Sedunia ini. Salah satunya adalah lomba lari 10 kilometer yang seluruh uang pendaftarannya akan disumbangkan ke Yayasan AIDS Indonesia. Balla’ta juga membagikan PIN dan Pita Peduli sebanyak 1.000 buah kepada pengguna jalan. Dan kegiatan lain.

Data Biro Napza Sulsel menunjukkan rata-rata pengguna narkoba adalah pekerja. Konstruksi sosial yang bias gender dengan adanya istilah 4M man, mobile, money dan maco,  memicu orang atau sekelompok orang  menjadi penyalaguna Napza yang berujunga pada penularan HIV-AIDS.

Padahal kasus Napza dan HIV-AIDS sudah menjadi epidemi ganda, korban bukan hanya pecandu, tetapi juga sudah mengidap HIV-AIDS atau penasun. Peringatan Hari AIDS Sedunia, selain sebagai momentum menghilangkan diskriminatif bagi ODHA juga dijadikan ajang menghindari segala hal penyebab HIV-AIDS.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah menyibukkan diri dengan aktifitas positif, misalnya mencari pekerjaan dengan aktifitas yang padat. Hindarilah bergaul dengan orang-orang yang masih aktif menggunakan narkoba, serta jauhi hubungan sexs beresiko. Jika terlihat gejala, jangan takut periksakan diri anda. ***

Jangan Malu Periksakan Gejala HIV-AIDS Anda! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!