![]() |
| Ilustrasi by Google |
1998.
Empat bocah tanpa alas kaki berteduh dibawah pohon mangga ditengah teriknya mentari. Empat bocah dari satu generasi yang belum paham masa dewasa mencuri waktu menerawang masa depan di sebuah kampung di selatan paling selatan sulawesi selatan.
Salah satu dari empat bocah itu bertubuh paling mungil, namun menguasai pembicaraan. Mulai dari pekerjaan, pendidikan dan pernikahan jadi racikan asik sambil menunggu keberuntungan mangga marum jatuh dari pohonnya. Momen itu indah dan tanpa beban.
Bocah bertubuh mungil itulah saya. Masih teringat janji kala itu untuk menikah diusia 25 tahun sebagai wujud mengikuti jejak rasul. Indah nian dan penuh ambisi, walau belum paham arti cinta dan pernikahan secara harfiah. Takkala mangga jatuh dan kami berlari berebut keberuntungan, janji itu perlahan sirna dan terlupakan.
2013.
Empat bocah tanpa alas kaki itu kini telah punya sepatunya masing-masing. Walau jenis sepatu berbeda, sesuai dengan usaha sendiri-sendiri. Satu dari bocah tanpa alas kaki itu, bahkan kini telah punya sepatu pemberian negara dan menenteng dua bocah tanpa alas kaki.
Tentu itu bukan saya. Saya masih bersepatu biasa tanpa sumbangan pemerintah. Begitu pula dengan dua bocah lainnya. Masih berusaha mencari sepatu terbaik di kehidupan masing-masing. Tapi bocah bertubuh mungil, yang banyak bicara punya cerita lain dari tiga bocah lainnya.
Dimulai awal tahun ini.
Selama 25 tahun janji dibawah pohon mangga terasa lalu dan rapat dalam berangkas kehidupan. Kembali terbuka dan merubah pola dan pikir yang masih bocah. Pasangan bersandal jepit pulang dari rantaun, jadi awal 'bencana' kehidupan.
"Menikah!" seperti kata yang dimuntahkan alam dalam suasana tanpa canda. Itulah bencana kehidupan yang menimpa. Tapi bukan untuk membunuh. Seperti itu kata bocah bersepatu pemberian pemerintah mencoba menguatkan sembari memopong bocah yang belum khatam kata-kata.
Pasangan tua bersendal jepit coba merayu akan kerinduan tangisan bayi di rumah yang gubuk. Tapi janji di bawah pohon mangga serasa tak terucap pada waktunya. Hingga suatu ketika, lidah yang tlah berucap janji menuruti kata pasangan bersendal jepit yang mulai keriput.
Prakara dimulai.
Satu bocah wanita ditunjuk dari generasi yang tak beda jauh. Terbilang masih sedarah, tapi halal. Niat baik tidak selalu berakhir baik. Prakara tak terwujud, banyak rintangan dan masalah harus terlewati. Hingga gila pun jadi solusi, tapi itu bukan bocah bertubuh mungil.
Pasangan tua tak kenal menyerah. 23 tahun di rantau memberinya pelajaran yang berarti. Tapi belum begitu paham membaca hati bocah bertubuh kecil. Gagal di bocah wanita yang baru saja kehilangan pembuatnya, bocah wanita lain dalam posisi yang sama jadi rujukan.
Namun niat itu terhenti akan kekerasan hati bocah bertubuh mungil yang banyak bicara. Hingga kegilaan muncul dari pihak pertama, niat menyatukan darah kembali dikibarkan. Tapi kegilaan itu jadi rahasia yang belum pasti berakhir bahagia seperti film-film india.
Kegilaan berlanjut dari sederat bocah wanita lintas generasi yang merapat ke bocah bertubuh mungil. Hantam sana dan sini sudah bukan hal yang 'haram', namun masih dibatas-batas kewajaran. Ketakutan menyeruak, harta yang sedikit dikhawatirkan jatuh diluar garis darah.
Hingga pada akhirnya, janji dibawah pohon mangga kini menanti akhir cerita untuk bab yang baru. Pertengahan tahun janji 25 tahun akan bergeser, memasuki masa kadaluarsa yang mungkin akan ditangih oleh pohon mangga yang kini telah jadi papan penyangga rumah. ***

0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!