![]() |
| Ilustrasi by google |
Saya tiba-tiba teringat petikan dialog dalam film fenomenal Indonesia 2009 silam, Laskar Pelangi diseri keduanya Sang Pemimpi. “Bermimpilah, karena hanya dengan mimpi kita diakui dan tetap ada” kurang lebih seperti itu. Dan ketika menuliskan judul di atas, saya pun menelaah kembali petikan dialog tersebut.
Sejenak ada benarnya juga, apalagi orang seperti saya ini, yang hidup penuh dengan kekurangan dimana-mana. Sehingga mimpi adalah obat termanjur untuk mengakui keberadaan saya di tataran sosial. Mimpi itu indah dan gratis, apatalagi tidak ada hukuman bagi siapa saja yang bermimpi, mau mimpinya jadi super hero sekalipun. :)
Tapi dalam hidup ini, saya berani taruhan tidak akan lagi menjul mimpi-mimpiku kepada siapa pun. Loh, kok mimpi sampai dijual. Mungkin selorohnya begitu. :). Yah, saya sempat sekali menjual mimpiku kepada seseorang yang selalu mendongenkan hal-hal indah dalam hidup.
Mimpi akan kaya mendadak, dan akhirnya bisa bergaya serta bergaul dengan kaum berstrata. Uh, betapa indah mimpi itu. Itulah kenyataan saat ini. Saking majunya teknologi, sampai mimpi dijadikan bahan dagangan, bahkan bisa mendatangkan omset lebih besar dari bisnis riil.
Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya, apasih yang saya bicarakan ini. :) Sedikit ilustrasi, mungkin anda pernah didatangi oleh seseorang teman dan menawarkan bisnis mudah dengan keuntungan besar serta dalam waktu relatif singkat. “Hanya butuh dua tahu,” biasa begitu gaya bahasanya.
Yah itu yang saya maksud, Multi Level Marketing (MLM), bisnis online dan apalah lagi yang sejenis dengan itu. Ini istilah bagi saya sendiri, berdagang mimpi. Karena dengan membuat orang bermimpi setinggi langit untuk merubah nasibnya, produk ini laku dan berjalan sesuai rencana.
Diluar sana entah sudah berapa jumlahnya bisnis semacam ini, seabrek dengan sistem berbeda dan mimpi yang berbeda pula. Bukan saya menyalahkan sistem ini hingga menganggapnya pembodohan, buktinya memang sudah banyak yang berhasil dengan menjalankan bisnis ini. Saya mengakui itu dengan sadar se sadar-sadarnya.
Tapi itu hanya secuil, jika dibandingkan dengan yang gagal. Itu termasuk saya salah satunya. :) Bahkan secara pribadi sistem ini membuat saya malas dan selalu mengangap segala sesuatu itu mudah dan tanpa tantangan. Padahal bertahan hidup itu tidak mudah dan murah, harus berdarah-darah dan berkeringat setiap saat. Terlalu…:)
Saya menulis tulisan ini, karena ditempat saya duduk saat ini sekolompok manusia telah dibuai dengan mimpi-mimpi menjadi kaya mendadak. Sekitar 20-an orang lah. Dengan memperlihatkan satu cuplikan orang-orang sukses yang telah menjalankan bisnis tersebut. Tak saya sebut apa nama bisnisnya untuk menghargai perusahaan tersebut.
Diantara mereka saya melihat didominasi kaum muda bahkan ada yang berseragam sekolah dan karyawan salah satu tempat belanja di Makassar. Terlihat asik mereka. Saya pun cengir-cengir, karena bisnis yang sama inilah yang telah menyandra mimpi saya 2005 silam.
Memang pilihan untuk merubah nasib berasal dari kegiatan apa saja. Saya pun mendoakan mereka agar sukses di bisnis ini. Namun saya bersyukur karena telah keluar dari sandra mimpi menjadi kaya mendadak dengan kerja segitu-gitunya. Bersyukur karena tanpa menjual mimpi ku pun, saya masih bisa bertahan di dunia ini.
Sekali lagi saya katakan, bisnis mereka bukan pembodohan dan salah. Hanya saja ini tidak sejalan dengan prinsip hidup saya. Sistem MLM itu sebuah terobosan besar dalam dunia ekonomi. Walau terkadang sang penyedia jasa itu melambungkan lebih awal mimpi calon uplowdernya ketimbang porsfek bisnisnya.
Saya khawatir (sok berpikir) jika nantinya seluruh rakyat Indonesia kaya dengan menjalankan bisnis semacam ini, tidak akan ada lagi yang bekerja sebagai karyawan karena telah menadi kaya. Orang kaya kan, hanya kerja sedikit tapi berpenghasilan besar. Saya juga mau kalau itu, tapi tidak dengan membalik telapak tangan saja. Saya harus kerja!
Tulisan ini bukan untuk mempengaruhi siapa saja agar berhenti bermimpi, dan yang menjalankan bisnisnya untuk berhenti dari rutinitasnya. Tapi ajakan untuk terus bermimpi dengan kesanggupan sendiri. Jangan sampai terlalu berlebihan yang pada akhirnya rumah sakit jiwa jadi labuhan.
Saya bermimpi karena saya yakin saya bisa, bukan bermimpi karena ada durian runtuh. Stop jadi pemalas.
Salam dari Makassar

Itu semua tergantung dari pandangan dunia seseorang dalam menyikapi hidup ini. Semuanya tak lepas dari program2 yang telah dibuat oleh para kapitalisme. Kata orang Sistem Kapitalisme, ada juga baiknya tapi sekalinya lebih banyak tidak baiknya ketimbang baiknya, susah juga tuh bro.
ReplyDelete