Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

24 April 2011

Merubah Diri Dengan Membaca Buku

Sama-sama Baca BukuImage by xiangxi via Flickr

Sekitar lima tahun yang lalu, saya bukan seorang pembaca apalagi gemar menulis. Jiwa muda yang menggebu, hanya ingin mengajak kehal-hal yang berbau kesenangan. Tidak ingin munafik, waktu itu saya hampir sudah melakukan semua perbuatan jelek yang merusak akidah ke Islaman saya. (bukan berbau kriminal, seperti rampok dan antet-antetnya).

Dalam benak saya, bagaimana bisa menyenangkan hati dan perasaan hari ini, itu saja sudah cukup. Boro-boro mau pikirkan masa depan yang lebih baik. “Mumpung masih ada orang tua, masa muda nikmati saja,” itulah prinsip ku yang mungkin juga banyak orang diluar sana berpikiran sama.

Sewaktu masa sekolah, seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara, karna kebetulan saya lahir tak diresekikan lebih dari satu, selalu menyindir walau sedikit sinis tapi saya sadar niatnya baik. Dia anak seorang ulama di daerah asalnya, di sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan.



Kata-kata yang selalu ia lontarkan cukup mengena sering kali. “Saya penasaran dengan kamu 10 atau 20 tahun yang akan datang,” selorohnya. Tak salah, karna saat itu saya bukanlah apa-apa, hanya anak muda yang mencari bentuk, jadi baik atau akan tetap sama bahkan bisa lebih buruk dari saat itu.

Waktu berlalu, kami lulus. Dia yang rajin membaca, terutama buku tentang agama, penguatan aqidah dan segala macamnya sudah dia lahap. Sedangkan saya, satu judul buku saja tak pernah ada yang tamatkan, boro-boro baca buku, megang buku saja bisa dihitung jari apalagi yang namanya beli buku, jangan dipikir.

Saya yang gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri, menjatuhkan pilihan pada universitas swasta di Makassar. Mungkin semua sudah tak asing lagi dengan ungkapan kampus hijau, Universitas Muslim Indonesia (UMI) saya yakin semua sudah kenal dengan kampus ini, tak usah saya bahasakan lagi, bagaimana dan seperti apa.

Kebiasaan saya waktu itu tidak jauh berbeda, bahkan setelah keluar dari pesantren sebagai bentuk penyambutan mahasiswa baru, tidak ada yang jauh berbeda dengan saya. Semua masih sama, belum ada penggerak untuk berpikir lebih baik, apalagi beribadah lebih baik.

Hingga satu hari, ketika toko buku Gramedia di salah satu mall di Makassar buka cabang kedua, saya tertarik untuk berkunjung. Beberapa saat keliling ruang pustaka yang cukup luas dengan hamparan buku-buku, saya berniat untuk kembali, karena tak satupun jenis buku yang bisa menggaet hati saya.

Saat itu saya berdiri di deretan buku-buku tentang agama, yang menurut saya cukup demokratis pengelola toko buku tempatkan karena posisi buku agama apapun ditempatkan sama tanpa ada sekat dia minoritas, dia mayoritas apalagi dia sesat dan dia yang benar, buku-buku itu menempati rak yang sama walau dipisahkan jenis agamanya.

Ketika akan meninggalkan Gramedia, tak sengaja tangan saya menyentuh tumpukan buku hingga satu diantaranya terjatuh kelantai. Sungguh, saat itu tidak ada niat dan buku itupun tidak pernah saya lihat ketika berada dideretan itu untuk menyentuhnya. Semua terjadi begitu saja.

Setelah saya ambil, buku itu berjudul ‘Keajaiban Sholat Subuh’ karangan Imad Ali Abdus Sami’ Husain seorang doktor bidang dakwah tsaqofah islamiyah di universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sepintas buku ini tidak ada apa-apanya, cover depannya yang didominasi warna hitam dan secercah warna mentari pagi ditambah gambar sebuah masjid.

Namun setelah membaca sinopsis buku ini, hati saya bergetar. Sungguh, tiada satupun niat saya melebih-lebihkan. Sekiranya saat itu, tak banyak orang disana, air mata kelaki-lakian ku akan jatuh. Gambaran tentang diri dan penyelamatan agama Allah di muka bumi tiba-tiba terbayang.

“Dimana kamu wahai laki-laki muda disetiap subuh datang, masjid ini dibuat untuk semua usia, bukan hanya untuk orang tua yang jumlahnya saja lebih banyak wanita daripadanya,” setidaknya inilah kata-kata yang buat saya berpikir. Ditambah lagi dengan penegasan hadis dari HR Ahmad yang ditempel sebagai pembuka.

Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.

Saya tak habis pikir, kata-kata pada cover belakang buku ini membuat saya menjatuhkan pilihan untuk membawanya pulang. Dan dari buku inilah, jendela-jendela ilmu yang tertutup rapat dalam lembaran kertas mulai saya buka, judul demi judul. Awalnya tentang buku keagamaan, hingga kehidupan saya sedikit mengalami perubahan.

Sejak saat itu, setiap bulan saya menyempatkan diri berkunjung mencari buku baru yang bisa membuat saya lebih baik. Setelah merasa ilmu tentang agama sudah meningkat dari sebelumnya. Saya tergoda untuk membaca buku tentang motivasi, karena kebiasaan saya bermalas-malasan nampaknya belum juga berubah.

Buku ‘Fight Like a Tiger Win Like a Champion’ karangan Darmadi Darmawangsa saya beli satu paket dengan ‘Champoin’ setelah membaca beberapa lembar halaman dalamnya.  Sungguh membuat saya bisa membuka diri dengan segala potensi yang saya miliki yang ternayata selama ini tak pernah saya hiraukan.

Kebiasaan ini terus berlanjut, sudah ratusan buku saya tamanti, mulai dari jenis cerita novel hingga ensiklopedia. Teman saya yang dulunya rajin membaca, ketika bertemu malah sering kali harus meminjam buku-buku milik saya karena ada beberapa diantaranya belum dia miliki.

Kebiasaan membaca inilah yang mengalir hingga membuat saya rajin menulis, kehidupan dan pemahaman tentang hiduppun sudah lebih baik dari lima tahun lalu. Walau saat ini, masih terus belajar dari buku-buku baru yang hadir, saya juga punya satu hayalan suatu saat bisa memiliki buku tulisan saya sendiri.

Kegemaran ini saya tuankan dalam sebuah blog pribadi atas nama saya, dan menulis di Kompasiana selain harus menjadi seorang penulis dari salah satu media di Indonesia. Keharusan memiliki wawasan luas membuat saya mewajibkan diri untuk baca buku, buku apa saja.

Namun hingga hari ini saya masih terus belajar. Dan jika harus mengucapkan terima kasih kepada seseorang, saya akan mengucapkan terima kasih kepada Imad Ali Abdus Sami’ Husain yang telah membuat saya sadar jika ilmu itu ada dibalik lembaran kertas-kertas berisi kata-kata.

Salam

Dari Makassar

Enhanced by Zemanta

Merubah Diri Dengan Membaca Buku Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!