Saya pernah dirawat hampir sebulan di rumah sakit. Penyakitnya, penyakit orang pinggiran, maag. Menderita maag akut membuat saya merasa tak punya lagi kekuatan untuk menatap masa depan. Karena saat yang bersamaan juga didera krisis percaya diri.
Banyak hal yang menjadi keluhan saya di dunia ini. Dari masalah keluarga, beban yang begitu menumpuk dan beberapa masalah lainnya sehingga saya melihat wajah yang begitu suram dimasa depan. Intinya, saat itu persaan saya drop yang berlebihan.
Bahkan kata-kata Soe Hok Gie tentang keberuntungan bagi jiwa muda yang meninggal dunia, terus terbayang dalam benak. Saya iklas saat itu, tapi disatu sisi saya juga galau dengan kondisi itu. Saya lahir sebagai anak tunggal, yang tentu ketika saya tiada dan putus asa dengan keadaan akan menjadi cambuk mematikan bagi kedua orang tua ku.
Hingga suatu hari, setelah lepas dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan. Saya berusaha untuk mengembalikan kepercayaan diri saya. Tidak mudah memang, tetapi akhirnya saya bisa. Berkat sebuah buku penuh dengan pencerahan berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi.
Buku yang ditulis tiga penulis sekaligus ini menceritakan tentang Gie yang mempertegas kematiannya di Gunung Semeru. Sekilas, bagi orang yang tidak diposisi saya, buku ini tidaklah punya arti menguatkan dan memberi motivasi, tapi lain dengan saya.
Sosok Gie yang sudah terpatri dalam benak saya dalam bukunya Catatan Sang Demonstran, memberikan saya satu harapan dalam buku keduanya ini. Saya yang dilanda sinisnisme perasaan bisa kembali merapat masa depan, dengan tidak akan mati sia-sia.
Gie yang masih muda, mati bersama dengan rekan sependakinya setelah menghirup gas belerang. Tetapi dia dikenang, dia diceritakan banyak orang. Buku-buku biografi tentang dirinya muncul dikemudian hari, termasuk buku terakhir yang saya miliki Soe Hok Gie Sekali Lagi.
Tiba-tiba muncul dalam hati agar saya tak putus asa. Walau kenikmatan mati muda seperti yang dibahasakan Gie terus terbayang tetapi saya juga ingin dikenang. Saya tak ingin melepas semua masa muda ku dengan berlama-lama dalam kesedihan dan diambang keputus asaan.
Hari ini saya hidup untuk dikenang, seperti Soe Hok Gie yang diceritakan banyak orang, menjadi tokoh demonstrasi yang menjadi gambaran. Saya tak akan mati sebelum orang lain mengenal ku, dan tak akan putus asa sebelum orang lain melihat kreatifitasku untuk bangsa dan untuk keluarga ku.
Kalau bukan saya yang membuat buku, saya harap ada orang lain yang menceritakan ku suatu saat nanti, olehnya itu saat ini ku membaca dan menulis untuk bisa hidup…
Salam…
Dari Makassar
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!