Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

25 March 2011

Negosiasi Warung Kopi

Sore-sore disudut warung kopi di daerah Bulukumba Sulawesi Selatan, wilayah dengan jarak 180 kilometer dari Kota Makassar yang terkenal dengan sebutan Butta Panrita Lopi (Tanah Pembuat Kapal). Hujan juga turun membasahi bumi sore ini, sehingga suasana begitu tenang dan dingin. Serasa ingin pulang dan tidur nyeyak dirumah.

Sore ini banyak orang berpakaian hijau tai kuda lengkap duduk di warkop dengan fasilitas wifi walau dengan tenaga sersendak-sendak tapi tetap ramai dikunjungi. Selain orang-orang berpakaian hijau rapi itu, juga ada beberapa orang menggenakan PIN Emas Garuda yang tersemak di bajunya sedang duduk dengan bongkahan kertas diatas meja yang dibolak balik.

Saya duduk paling sudut, dijejerang saya duduk masih ada dua meja dengan empat kursi yang juga ditempati orang. Pas disebelah saya, dua orang wanita muda berkerudung yang dibalut dengan pakaian berwarnah hijau rapi, disebelahnya itu empat orang bapak-bapak sedang duduk dengan dua orang diantaranya menggenakan PIN Garuda Emas dan dua berpakaian biasa.

Sesekali terdengar pembicaraan mereka terkait uang miliaran dan proyek. Saya tak paham betul pembahasan mereka. Satu kalimat yang sempat mendarat pasti ditelinga saya hanyalah “Orang Dinas Kesehatan sudah tiba, saya ditunggu untuk tanda-tangan ndak enak kalau terlambat karna kita yang diberi,” terang lelaki ber Pin Emas tersebut sebelum berlalu.

Bagi saya pembicaraan ini sudah biasa selama saya bertugas dua minggu di daerah ini. Tiada hari ketika saya duduk di sore hari pembicaraan seperti ini terdengar. Bahkan ada yang biasa melakukan hal lebih ekstrim dengan membawa amplop berwarnah coklat kepada pria yang biasa berpakaian hijau.

Tapi hari ini lain, selain pembicaraan tanda tangan tersebut satu pria ber PIN emas masih tinggal dan setelah beberapa saat menghampiri dua wanita yang duduk dari tadi disebelah meja saya. Setelah basa basi sana sini, tibalah satu skane pembicaraan yang membuat saya kaget.

Lelaki PIN : “Sudah berapa lama kau honor?”

Wanita Berpakaian Hijau : “5 tahun puang“

Lelaki PIN : “Sudah terdaftar di Data base?”

Wanita Berpakaian Hijau : ” Ye, belum puang“

Lelaki PIN : “Kalau begitu besok datang ke BKD, saya akan telpon kesana, kau tinggal bawa diri dan surat, gampang mi itu masalah terangkat mu, jangan mi susah”

Wanita Berpakaian Hijau : “Terima kasih banyak puang” (sambil jabat tangan dan cium tangan)

Sebenarnya sih saya tidak terlalu kaget dengan pembicaraan tersebut. Karena hal ini sudah hal yang lumrah dalam kehidupan, tetapi satu kenyataan yang selama ini hanya saya dapatkan di film-film terbukti di hadapan saya. Diakhir pembicaraan kedua orang ini, si lelaki ber PIN Emas yang tampak sudah berumur meminta nomor handphone gadis tersebut.

Saya sih tidak tahu pasti apa maksudnya, tapi saya pikir hanya untuk memudahkan kontak dikemudian hari. Hingga saya, kaget dengan kata perpisahannya.

“Kamu bisa sebentar malam kan?” tanya lelaki PIN Emas tersebut sambil menatap dalam wanita tersebut.

Kalau kata-kata ini, sungguh saya tidak bisa menyimpulkan. Entah sebelumnya mereka sudah punya kesepakatan atau bagaimana. Semoga saja dugaan ku salah. hmmmm

Pada akhirnya semua orang tinggalkan tempat itu, tinggal ku sendiri menyelesaikan ketikan ini untuk ku kabarkan kepada semua orang di Dunia. Hujan pun masih tetap turun walau tinggal rintik-rintikan saja.

Salam Dari Bulukumba, Sulsel Indonesia

Negosiasi Warung Kopi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!