Babak baru perang Timur Tengah telah dimulai. Setelah Irak jatuh karena Amerika melakukan invasi besar-besaran untuk menjatuhkan Saddang Husain, kini giliran Libya menjadi sasaran dimana Muammar al-Qaddafi telah menjabat selama 30 tahun lebih.
Entah apa kini alasan Amerika melakukan invasi untuk urusan internal Libya. Namun dibenak saya tiba-tiba muncul satu pertanyaan besar setelah melihat deretan letak Libya di peta. Dimana Afganistan, Irak dan Libya berada pada satu jalur lurus yang kaya akan minyak mentah, dimana ketiga negara ini telah dicampur tangani oleh Amerika.
Disatu sisi saya tertarik dengan kata-kata Qaddafi yang telah berkirim surat ke Barack Omaba sebelum invasi Amerika digencarkan. Qaddafi dalam surat kenegaraan tersebut menyebut nama Osama Bin Laden yang berada dalam jaringan Al-Qaedah sebagai otak perlawanan opisisi kepadanya yang tidak diketahui oleh Obama.
“Al-Qaeda adalah organisasi bersenjata yang melintasi melalui Aljazair, Mauritania, dan Mali. Apa yang Anda lakukan jika Anda tahu mereka mengendalikan kota-kota di Amerika dengan kekuatan senjata? Apa yang akan Anda lakukan, sehingga saya dapat mengikuti contoh Anda.”
Itulah tulisan surat Qaddafi kepada Obama yang hingga saat ini belum mendapatkan balasan. Entah apa yang dipikirkan Obama saat ini, atau dia sebenarnya sudah dari dulu mengetahui tentang keterlibatan Osama dalam kisruh Libya. Namun yang menggelitik saya dalam surat Qaddafi tersebut, dia menyebut Obama sebagai anak yang harusnya tidak melakukan peperangan dengan bapaknya.
“Untuk anakku, yang mulia, Mr Barack Hussein Obama. Saya telah mengatakan kepada Anda sebelumnya, bahkan jika Libia dan Amerika Serikat memasuki satu peperangan, kendati Tuhan melarangnya, Anda akan selalu tetap seorang anak. Foto Anda tidak akan berubah.”
Tapi ternyata perang itu telah berkecamuk walau di negaranya sendiri, Obama mendapat kecaman cukup besar. Bahkan 50% penduduk Amerika menolak melakukan invasi ke Libya yang tetap digelakkan Obama.
“Langkah sepihak Presiden Obama menggunakan kekuatan militer Amerika di Libya adalah penghinaan terhadap konstitusi kita,” ujar anggota Kongres dari Partai Republik di Komisi Militer, Roscoe Bartlett. –Koran Tempo 23/3–
Ini membuktikan, ada satu hal yang dikejar Obama yang masih belum kita ketuhui bersama. Walau secara menerka-nerka sudah terbentuk dalam benak kita tentang apa yang diinginkan Obama di Libya. Sebagai negara Super Power, Amerika memiliki kendali penuh di PBB, sehingga ancaman Qaddafi nampaknya hanya menjadi isapan jempol.
Saya tertarik dengan kata-kata Qaddafi ke Obama yang menggambarkan satu kedewasaan bertindak, sekaligus ke sombongan kepada rakyatnya. Qaddafi berkata :
“Libia bukan milik Anda. Libia untuk semua orang Libia,”
25 March 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!