Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

25 March 2011

Mengenang Norman Edwin Sang Sahabat Alam

“Sopan tapi berantakan, dan mirip-mirip gayanya bertegur sapa penuh seloroh khas anak muda kampus yang gue-elo-yeah wow-wow, sambil tak ketinggal senyum jahilnya”

Itulah sekilas gambaran tentang Norman Edwin. Penulis, pencinta alam dan jurnalis handal khusus liputan petualangan yang menantang nyali yang pernah dimiliki Indonesia yang terkahir mengabdi di Harian Kompas.

Lulusan Universitas Indonesia tersebut lahir 16 Januari 1955 di Sungai Gerong, Palembang dan harus menghembuskan nafas terakhir di Puncak Aconcagua, perbatasan Chile – Argentina pada ketinggian 6.969 meter diatas permukaan laut tepat 21 Maret 1992.

Kisah hidup Norman Edwin telah dijadikan acuan bagi para pencinta alam di Indonesia bahkan dunia. Terbukti saat sepeninggalnya bersama Didiek Samsu Wahyu yang juga teman se profesinya sebagai jurnalis di Jakarta,  media nasional bahkan internasional terus menerus memberitakan kejadian tersebut.


Norman adalah salah satu orang yang mencetuskan nama Mapala UI (Mahasiswa Pencinta Alam) yang terus mengalami perkembangan dan masuk ke hampir semua universitas di Indonesia. Di kalangan teman-teman dan keluarganya dia dikenal sebagai orang yang baik dan sering menolong bahkan walau dia dalam kesusahan, tetap mengusahakan memberi pertolongan kepada orang lain.

Saya bukanlah orang yang dekat dengan Norman Edwin, tetapi dari buku-buku yang banyak menceritakan tentang dia, kedekatan saya walau berbeda dunia dengan dia tersambung dari satu kesenangan yang sama. Melalui tulisan-tulisannya yang sempat tayang di Harian Kompas, membawa saya mengenal lebih jauh sosok Norman yang penuh gelora dan ambisi petualangan muda.

Dia memang telah tiada sejak lama, tetapi akan tetap hidup dalam karya-karyanya. Para petualang alam akan tetap mengingat pencetus pertama kalinya petualangan 7 summit di Indonesia yang harus merenggut nyawanya. Predikat Sang Sahabat Alam disematkan padanya karena bukan hanya gunung yang mampu ia taklukkan, bahkan lautan sekalipun telah menjadi wilayah petualangannya.

Saya masih ingat betul tulisan Norman saat ikut bersama dalam ekspedisi Kapal Phinisi Amanna Gappa ke Madagaskar. Dimana, perahu pesanan Michael Carr yang dibuat dengan tangan tersebut hampir saja terjerabat dan tenggelam kedasar samudra yang ganas, dia juga bisa menggambarkan secara utuh pedebatan Michael dengan Muhammad Yunus pembuat sekaligus nahkoda kapal tentang beberapa bagian kapal yang dinilai pemborosan.

Norman hadir menyajikan betapa Indonesia dengan kearifan lokalnya mampu membuktikan kebiasaan dan pandangan mata tanpa mampu dijelaskan dengan ilmiah mampu bertahan dengan baik di lautan lepas. Banyak lagi, kisah-kisah tentang dia yang bisa kita dapatkan dalam buku-buku petualangan.

Saya sebagai generasi sekarang, hanya mampu berterima kasih tentang semua pelajaran yang telah diberikan Norman selama di hidup. Perjuangan dan pembuktian jika orang Indonesia adalah orang besar inilah yang dibuktikan Normal yang rela berjibaku dengan alam.

Akhir kata, saya hanya mampu mengucapkan Selamat Jalan Kembali Norman Edwin Sang Sahabat Alam… jasamu dalam membangun petualangan dan semangatmu untuk menaklukkan alam tak kan pernah di lupakan….

Salam….

Mengenang Norman Edwin Sang Sahabat Alam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!