Tapi seiring berkembangnya waktu, OS ‘Jendela’ terus melakukan inovasi dan harganya pun semakin mahal. Hal ini membuat masyarakat yang telah termakan oleh kebiasaan, melakukan banyak cara agar tetap menggunakan OS ‘Jendela’ padahal melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan lisensinya adalah perbuatan melawan hukum, bisa terjerat UU HAKI.
Saya pun termasuk salah satu yang telah melawan hukum, waktu itu. Hingga akhirnya saya sadar, tidak ada untungnya menggunakan OS palsu. Toh, ternyata diluar sana masih banyak yang asli dan tidak harus membuat kita was-was jika-jika suatu saat ada pemeriksaan keaslian OS yang kita gunakan di komputer, laptop maupun netbook.
Menggunakan OS berbayar yang ujung-ujungnya di cloning sehingga menjadikan Indonesia sangat-sangat terkenal diwajah dunia sebagai negara terbesar peng-cloning software asli, tentu tidak baik untuk generasi masa depan bangsa. Generasi selanjutnya pasti akan mengikuti jejak pendahulunya, hampir sama dengan korupsi, pasti akan ada pengikutnya.
Saya juga sadar, kas orang Indonesia kebanyakan masih kurang mampu untuk membeli OS asli beserta aplikasi ikutannya sehingga memilih menggunakan yang palsu saja. Toh, hasilnya juga sama, dari pada keluarin duit gede-gede mending beli bajakannya, di pasar loak sekalipun masih didapat dengan hanya bermodal pembeli CD kosong.
Tetapi, akan begini teruskah teknologi kita. Saya merasa sudah saatnya kita menggunakan yang asli. Dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah menggunakan OS asli. Karena pengguna komputer di Indonesia sudah semakin besar. Saya tak memiliki datanya, tetapi gambarannya, khusus Makassar saja, hampir disetiap sudut jalan selalu ada Warung Kopi Wifi yang dipenuhi pengunjung dengan laptop dan netbook pribadi.
Semua juga pasti sudah tahu seberapa besar pengguna komputer saat ini di Indonesia. Dan rata-rata diantaranya masih menggunakan OS ‘Jendela’ hasil cloningan. Saya sejak setahun yang lalu, tepatnya 23 Januari 2010 telah membulatkan tekad untuk hijrah menggunakan OS asli. Dan yang saya gunakan adalah Linux Ubuntu, karena ingin menggunakan ‘Jendela’ asli bajet saya tak cukup, maklum orang pinggiran.
Awalnya saya juga was-was, jangan-jangan saya tidak bisa menggunakan Ubuntu. Tapi ternyata, faktor membiasakan diri –bukan kebiasaan– telah menjadikan saya cukup bisa menggunakannya. Dan hingga saat ini telah terus mengalami peningkatan, dari awal saya gunakan baru versi 7.04 kini telah berada di versi 10.10 –sudah ada versi 11.04, terbaru–
Menggunakan OS gratis atau open source yang terbuka secara bebas ada kelegaan tersendiri. Tidak harus berpikir, dan dibayangi kata-kata palsu. Dan menggunakan Ubuntu menurut saya, jauh lebih mendidik anak bangsa, karena memaksa kita untuk belajar dan mendalami teknologi, bukan hanya sebagai pengguna pasif.
Diluar sana, banyak versi Linux yang bebas dipilih dan digunakan. Tingkat kesusahan juga berfariasi, tergantung kegunaan. Dalam tulisan ini saya mengajak semua anak bangsa untuk saatnya menggunakan OS asli. Hal ini sebenarnya telah dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Telekomunikasi dan Informasi, namun gerakan untuk membangun bangsa yang asli dengan penggunaan OS asli harus dilakukan secara merakyat.
Tahap awal pengenalan ini saya sudahi dulu. Di sesi berikutnya, akan saya beri gambaran seberapa gampangnya menggunakan Ubuntu. Akhir kata, saya mengajak semuanya untuk saatnya menggunakan OS asli.
Salam Asli
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!