Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

25 October 2010

Jalan Terjal di Camba Maros

Dulu kata kota Bone itu masih sangat asing dalam kehidupan ku, tapi kini, walau tak banyak,setidaknya Bone sudah ku pijaki dan bukan hanya cerita dan kata-kata semata tentang Bone, dan bagaimana kota kelahiran Jusuf Kalla tersebut nampak dalam keaslian alamnya.

Sabtu, 23 Oktober 2010.

Perjalan setengah ihlas, ku mulai Pukul 9.30 Wita. Andi Ihsan-lah orang yang terus memaksa saya untuk ikut dalam perjalanan sehari semalam dan membuat banyak cerita itu.



Awalnya tak ingin berangkat, dengan berbagai macam alasan. Pertama, saya tak sanggup berlama-lama berada di daerah asing dalam keadaan terasing dari bahasa yang sungguh masih asing dalam hidup ku --bahasa bugis--. Kedua,ini sangat jauh, sekitar 500 kilometer dari kota Makassar. Ketiga, rasa malu, tentu karna yang dituju adalah sebuah resepsi pernikahan dan saat itu, sungguh ongkos bensin untuk kesana saja tak ada.

Tapi semua ternyata mampu ditepis oleh Andi Ihsan. Disatu sisi, pria asli Bone itu punya kemahiran dalam hal merayu, membujuk dan mengiming-imingi seseorang. Tapi bukan karna itu alasan kenapa saya harus berangkat dengan setengah ihlas ke Bone, tapi kepolosan wajah Andi Ihsan yang terpangpang dihadapan ku.

Tidak memelas, tapi mengibah. Motor GeDe, berwarnah merah yang dengan susah payah harus masuk kedalam kamar sudah pada tempatnya. Tak ingin mengecewakan, karna perjanjian awal, motor merah milik saya yang akan digunakan dalam perjalanan jauh itu. Akhinya, saya harus berangkat ke Bone pagi itu. Tentu masih dalam keadaan setengah ihlas.

Tampa persiapan matang, perjalan pun dimulai, tentu dengan kesepakatan, Andi Ihsan-lah yang akan membawa motor hingga sampai ke Bone.

***

Pukul 10.00, kami berdua sudah melewati wisata alam Bantimurung. Butterfly City itu sudah lenyap dimakan tingginya gunung dan rindangnya pohon disepanjang perjalanan ke Bone. Sungguh asri!

Disepanjang perjalan hanya ada deretan pohon-pohon dengan jenis yang berbeda, kadang ada Jati, kadang ada Sukun, kadang pula jenis pohon yang sama sekali belum pernah kusaksikan sebelumnya. Sesekali pula, hamparan sawah memberikan tontonan nyata. Sejauh mata memandang hanya hijau dan tanah yang bertingkat jadi suguhan.

Laju motor makin kencang, melirik ke kilometer motor, jarum putih km bersandar di angka 90. Tapi sesekali pula, keluh Andi Ihsan terdengar, "masa cuma sampai disini". saya hanya mampu tersenyum masum, mau beri alasan tak ada guna, terpaan agin mampu menghilangkan suara, yang tentu hanya akan jadi sia-sia saja.

Masih juga belum 100% ihlas melakukan perjalan panjang itu. Pemutar musik di handphone pun menjadi pelarian untuk mengusir kejenuhan diatas motor. Tidak lebih dari lagu RnB ala Flo Rida, Icon, Blakc Aye Piss hingga lagu bergenre klasic akustic ala Paramour, Clay Aiken, hingga koleksi lagu-lagu Edie Vedder dan Roger Miller menjadi penenang.

Sejenak, lentunan musik dan suara mereka menjadi obat bius hingga melupakan sesaat bahwa saat ini saya sedang dalam perjalanan panjang menuju Bone, --yang sungguh masih sangat asing--. Tapi, alam yang menjadi lukisan maha besar Tuhan itu mampu membuat ku sedikit ihlas melakukan perjalan itu.

Ada keindahan, ketegangan, mukjisat yang sungguh besar tersimpan rapi dan padat dalam deretan pohon-pohon dan menjulangnya gunung di kabupaten Maros tersebut. Momen itu sangat tak mungkin ku temukan di Makassar dan kota-kota besar lainnya, karna ini semua cuma ada di Maros sebelum memasuki Bone.

Pukul 10.30 wita, kami harus memasuki jalanan maut. Julukan jalan Cammba (Asam) yang sungguh terkenal di Sulawesi itu. Jalanan yang bukan hanya berbentuk S, tapi benang kusut bagi saya yang pertama kalinya menginjakkan kaki ditempat tersebut.

Berhubung kendaraan yang kami gunakan adalah motor 4 tak, yang tentu bukan matic seperti kebanyakan motor yang laris di perkotaan. Dengan susah payah, Andi Ihsan mengoper sana, mengoper sini gigi motor, agar bisa tetap seimbang dijalan yang belum cukup semeter harus belok diantara bebatuan dan pohon yang menjulang.

Untung jalanan cukup mulus di Cammba, sehingga laju motor serasa nyaman, walau perut harus melilit sana, melilit sini, mengikuti gerak-gerik motor yang hanya lari antara oper gigi satu dan dua, tak pernah lebih hingga lolos dari jalan yang panjangnya mencapai 100 km tersebut. To Be Continue...

Jalan Terjal di Camba Maros Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!