Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

29 September 2010

Masih Terbengkalainya Societeit de Harmonie

Anggota DPR RI dari Fraksi Hanura Akbar Faisal mengaku prihatin dengan kondisi Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie yang kini porak poranda dan terbengkalai.


Keprihatinan itu diungkapkan Akbar saat menyaksikan kondisi gedung kesenian beberapa waktu lalu. Akbar hadir di gedung kesenian atas undangan Forum Masyarakat Seni (Formasi) Sulsel yang menggelar acara Kenduri Duka belum lama ini. Akbar tampil membacakan puisi berjudul Tanah Air Mata di tengah-tengah puing reruntuhan gedung kesenian, Sabtu malam.

Puisi tersebut dibacakan di tengah kegelapan akibat gedung kesenian tidak lagi memiliki listrik sejak dicabut PLN. Saat berdialog dengan seniman dan pemerhati seni, Akbar mengaku sedih melihat kondisi gedung kesenian. Apalagi, dia mengaku punya memori dengan gedung tersebut. Beberapa tahun lalu sewaktu dia masih berprofesi sebagai seniman, gedung kesenian adalah tempatnya makan dan tidur bersama teman-temannya sesama seniman.

Akbar menyatakan siap membantu menyampaikan kondisi gedung tersebut kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Selain itu, dia juga berjanji menyampaikan kondisi gedung tersebut ke Komisi X DPR yang membidangi seni dan budaya. Akbar juga berjanji akan membicarakan soal kelanjutan renovasi gedung kesenian itu dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Menurut Akbar, sebagai salah satu benda cagar budaya, tidak seharusnya gedung kesenian dibiarkan terbengkalai seperti keadaannya sekarang. Dia mengatakan tidak tahu apa yang ada di benak pejabat Pemerintah Provinsi Sulsel sehingga rela menelantarkan sebuah situs budaya.

Dalam diskusi dengan seniman dan pemerhati seni, Akbar menjelaskan betapa pentingnya posisi kesenian dan kebudayaan dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, munculnya persoalan besar bangsa seperti skandal Bank Century, disebabkan karena bangsa Indonesia sudah kehilangan karakter. Hilangnya karakter akan membuat seseorang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Karakter sebuah bangsa hilang manakala bangsa tersebut mengabaikan pembangunan kesenian dan kebudayaannya.

Diketahui, Formasi menggelar Kenduri Duka sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi kesenian di Sulsel yang terpuruk. Pemprov selama ini hanya fokus pada kegiatan promosi pariwisata yang manfaatnya tidak jelas bagi kepentingan masyarakat luas.

Selama tujuh tahun terakhir, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel membuat program kesenian tanpa melibatkan masyarakat seni. Disbudpar hanya mengakomodasi kepentingan oknum seniman perorangan. Akibatnya, program kesenian hanya bersifat seremonial belaka dan terkesan hanya bertujuan menghabiskan anggaran setiap tahun.

Disbudpar juga tidak melakukan transparansi anggaran di APBD yang berakibat pada melemahnya pengawasan terhadap penggunaan anggaran kesenian yang jumlahnya miliaran rupiah setiap tahun.

Terbengkalainya renovasi gedung kesenian juga satu bukti betapa pemrov tidak memiliki kepekaan dan kepedulian pada pengembangan kesenian.
Salah satu tuntutan Formasi kepada Pemprov Sulsel adalah meminta segera digelar musyawarah kesenian. Melalui musyawarah itu, akan dirumuskan program kesenian yang tepat untuk pengembangan kesenian di Sulsel.

Melalui musyawarah kesenian pula, akan dibentuk sebagai lembaga representatif yang diharapkan akan menjadi mitra pemerintah dalam menjalankan program-program kesenian. Lembaga representatif itu sekaligus akan menjadi pengawas bagi pemerintah dalam menjalankan program kesenian.

Namun, kesepakatan menggelar musyawarah kesenian yang dicapai di rapat Komisi E DPRD Desember 2009 lalu, kini diabaikan. Atas pengingkaran yang dilakukan Disbudpar tersebut, Formasi melakukan protes dengan menggelar Kenduri Duka. Kegiatan yang berisi berbagai macam pertunjukan kesenian itu akan berlangsung selama tujuh hari, dan berakhir belum lama ini.

Masih Terbengkalainya Societeit de Harmonie Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!