Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

23 September 2010

Mengenal Statistik

grundkurs statistikImage by pixelroiber via Flickr

Memperingati Hari Statistik Nasional, 26 September 2010
Sering kali kita mengucapkan kata Statistik dalam kehidupan kita, bahkan untuk urusan jumlah mahasiswa dalam sebuah universitas atau dalam sebuah fakultas, beberapa orang yang terlibat didalamnya mengumbar kata “statistik” sebagai gambaran data falid yang bisa dikalkulasi dengan kasat mata oleh siapa saja.
Tapi, banyak pihak malah melihat kata “statistik” sebagai sebuah simbol kesempurnaan sebuah data yang disajikan. Belum tentu! Bisa saja data dalam bentuk statistik itu adalah sumber kekeliruan yang tetap kita paksakan falid untuk mempertontonkan seseorang sudah sangat paham dengan ilmu statistik.
Ilmu yang memang identik dengan bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Istilah statistik sendiri berasal dari kata Statistika yang diadaptasi dari istilah latin modern statisticum collegium ("dewan negara") dan bahasa Italia statista ("negarawan" atau "politikus").
Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai "ilmu tentang negara (state)".  Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi "ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data".
Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat. Indonesia sendiri, Mei 2010 ini telah merampungkan sensus penduduk yang 17 Agustus lalu mengumumkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 228 juta jiwa naik 23 juta jiwa dari sensus tahun 2000 yang hanya 205 juta jiwa.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil).
Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.
Meskipun ada pihak yang menganggap statistika sebagai cabang dari matematika, tetapi sebagian pihak lainnya menganggap statistika sebagai bidang yang banyak terkait dengan matematika melihat dari sejarah dan aplikasinya. Di Indonesia, kajian statistika sebagian besar masuk dalam fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, baik di dalam departemen tersendiri maupun tergabung dengan matematika.
Nanum tentunya, Statistik yang tiap 26 September di Indonesia di peringati sebagai hari Statistik Nasional memiliki arti yang lain. Seharusnya statistik tidak hanya didapatkan dalam cabang ilmu matematika dan ilmu pengetahuan alam.
Makna statistik di dunia memang telah mengalami pergeseran cukup besar dari jenjang sejarahnya, namun khusus di Indonesia, kata statistik masih di masukkan dalam konteks politik. Sebut saja untuk urusan ke falidan data penduduk miskin di Indonesia masih menjadi sangat tidak jelas.
Hal ini lantaran sebagian pihak masih memainkan data statistik sebagai politisasi untuk meraih tujuan, semisal pemilihan kepala negara hingga pemilihan kepada desa sekali pun. Walau WHO 2005 lalu mengumumkan, jika jumlah masyarakat miskin di Indonesia menurun drastis hingga 25 persen dari tahun 1990 hanya 24 persen, namun tentu saja data tersebut belum dibisa dijadikan acuan.
Tidak salah memang, jika data statistik yang di Indonesia telah terbentuk badannya bernama Badan Pusat Statistik menjadi bahan politisi, lantaran itu tadi, kata statistika dalam bahasa Italia berarti Politikus. Namun, jangan sampai kata statistik yang sudah sangat dipahami masyarakat sebagai bentuk ke-absahan sebuah data yang dikeluarkan pemerintah, bukannya menjadi pencerah malah menjadi peresah karena data yang disajikan belum tentu 100 persen benar.
Alasan “Tidak ada yang sempurna di dunia ini” memang sering kali menjadi pembela yang menjur dalam setiap sajian para aktor statistik. Namun jika terus menjadikan alasan tersebut sebagai tameng dari sindiriran sebagian orang, kapan hasil yang sempurna, atau dalam bahasa statistik perbankannya, margin error datanya bisa menjadi 0 persen atau 0, sekian persen bisa tersaji.  
Kembali mengenal istilah statistik hingga cara penyajian yang dilakukan dengan menempuh banyak metode, kita bisa menyimpulkan jika data statistik hanyalah sebuah gambaran umum akan sesuatu.
Ada dua macam statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varians dari data mentah; mendeksripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah “dibaca” dan lebih bermakna. Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.
Dalam penyajiannya pula, statistika mengenal dua cara yakni  penelitian berdasar eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan.
Akhirnya, penulis sebagai orang yang juga sedang mendalami ilmu statistika berharap, terapan ilmu statistik di Indonesia bisa lebih fokus untuk menyajikan data falid. Dan ditambah lagi, ilmu statistika bukan hanya terbatas pada turunan ilmu matematika dan ilmu pengetahuan dasar. Sebenranya terapan ilmu lainnya, sangat memungkinkan untuk mendalami statistika.
Melalui peringatan Hari Statistikan Nasional, kisruh tersirat yang sedang di pertontonkan Badan Pusat Statistik dengan Bank Indonesia yang selama ini sulit untuk disatukan, bisa mengalami perubahan agar, kebingungan masyarakat terkait seringnya terjadi perbedaan data statistik antar kedua instansi negara ini bisa di hilangkan.***
Enhanced by Zemanta

Mengenal Statistik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!