Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

25 September 2010

Kurangi Penayangan Sinetron

no sinetronImage by alimander via Flickr
Urbanisasi yang banyak mendera kota-kota besar di Indonesia, bisa dikata bukan karena satu faktor pendukung saja di belakang semuanya. Ada banyak indikasi hingga urbanisasi yang meninggikan persentase jumlah penduduk di perkotaan tersebut bisa terjadi di era ke kinian.

Salah satu yang mendasari tingginya migrasi dan mobilitas penduduk ke kota-kota besar adalah dampak buruk seringnya penyuguhan sinetron secara berlebihan oleh stasiun televisi. Sadar atau tidak, suguhan sinetron yang lebih banyak bercerita modernitas, kenyamanan berada di kota besar hingga fasilitas yang serba ada, menjadi pemicu kuatnya arus urbanisasi.


Selain menyimak cerita pada lakon-lakon di sinetron tersebut, masyarakat juga menyimak dengan seksama dimana tempat cerita tersebut di buat. Sehingga ada rasa ingin, mau bahkan dengan sekuat tenaga harus mendatangi tempat tersebut. Ini adalah kebutuhan manusia yang sering kali tak mampu di bendung jika terlanjur senang dengan sesuatu.

Bukan melarang, sinetron itu hadir di setiap rumah-rumah penduduk di Indonesia, namun intensitas hadirnya harus segera di atur jika ingin mengatur tingkat urbanisasi secara sistematis. Karena keseringan menghadirkan tayangan sinetron di televisi, mata masyarakat awam yang banyak bermukim di pedesaan lebih akrab dengan setiap cerita yang ada di televisi.

Keinginan untuk tayang di televisi pun akhirnya muncul, mulai pula tumbuh rasa jenuh untuk kerja di pertanian atau peternakan (khusus kaum muda) karena menyaksikan kenyamanan berada di kota-kota besar. Disinilah awal munculnya keinginan untuk mermigrasi ke perkotaan.

Daya tarik lain yang banyak disuguhkan sinetron atau tayangan-tayangan sejenisnya, juga banyak mengambarkan kemewahan, kelengkapan sarana, banyaknya lapangan kerja, tempat pendidikan yang lebih baik hingga pada modis kaum muda yang cantik-cantik dan ganteng adalah daya tarik yang membuat urbanisasi makin merajalela.

Sebagai solusi terbaik yang harusnya ditempuh pemerintah, adalah dengan mengatur penayangan sinetron secara berlebih tersebut di stasiun televisi. Jika selama ini, sinetron banyak beredar antara pukul 17.00 hingga 22.00, agar diatur kembali untuk menghindari anak-anak remaja yang lebih muda terpengaruh dengan tayangan sinetron tidak disuguhi terus-menerus.

Atau bagi stasiun televisi yang selama ini menayangkan sinetron ala keluarga kaya, berfasilitas lengkap dan dilingkungan yang menayangkan keserba adaan, diganti dengan banyak mengangkat cerita rakyat. Dalam artian bukan cerita, sedih-sedihnya, seperti yang selama ini ditampilkan di sinetron, -hanya kesedihan untuk orang desa- intinya.

Tapi memperlihatkan potret asli rakyat Indonesia kebanyakan, sehingga untuk mau membanjiri kota-kota besar bisa di urungkan sebagian orang. Karena menumbuhkan kembali, rasa cinta kepada lingkungannya dan kembali mengangap penting menjadi petani dan peternak yang akan menyuplai makanan orang-orang yang terlanjur datang ke kota.

Tentunya, pengaruh buruk sinetron yang kita semua tahu kualitasnya seperti apa itu, hanyalah salah satu faktor kecil yang mempengaruhi urbanisasi, sehingga dengan mengurangi penayangan sinetron secara berkala, juga adalah upaya kecil yang bisa kita tempuh. Upaya kecil yang jika dimanfaatkan dengan baik, akan membuat perubahan cukup besar dalam menekan urbanisasi.

Penulis sadar, faktor profit adalah pendukung utama bagi stasiun televisi menayangkan program yang sangat di cintai jutaan mata di Indonesia tersebut. Namun, alangkah baiknya, jika kita semua bersama mau membangun masyarakat Indonesia kearah yang lebih baik.
Enhanced by Zemanta

Kurangi Penayangan Sinetron Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!