Saat Mata Hanya Jadi Simbol
Ada rasa ingin mengupas semua isi bumi, menggali hingga kedasar dimana bumi ini dipasak, atau bahkan menghilang dari pandangan manusia-manusia serakah yang mengaku sempurna dengan tubuh dan indera yang berfungsi.
Kadang ku akui, Tuhan tak berlaku adil dengan hamba-hambanya, kadang pula tak ku nyalah, jika zat yang namanya Tuhan itu ada. Pikirku, semua hanya penggambaran dari manusia yang buta akan hari esok, hingga mengadakan Tuhan, yang suatu saat bisa pula di tiadakan.
Ku akui pula, sering kali ku mengeluh, menyesal bahkan mungkin cibiran, kepada yang telah melahirkan ku. “Kenapa ku tak di lahirkan di keluarga kaya, sempurna, agar bisa hidup enak seperti anak kebanyakan,” kadang ku begitu.
Atau, sering terbersit dalam pikirku untuk meninggalkan mereka, pergi ke tempat yang lebih baik, mengihlaskan diri dianggap anak oleh orang berkecukupan kebanyakan, agar ku merasa bebas dari beban sebagai mata jalanan.
Yah, sebagai mata jalanan. Pasti tak ada satu pun anak di dunia ini yang mau menjadi seperti ku, yang sejak lahir menjadi mata jalanan. Entah, ini akan sampai kapan? Sampai tua bahkan hingga ke liang lahat sekalipun mungkin akan tetap seperti ini, menjadi mata untuk orang yang ku kasihi.
Tak ada nama yang baik untuk ku, sejak lahir ku tak diberi nama oleh kedua orang tua ku. Orang-orang hanya memanggilku dengan panggilan semau mereka, kadang nama yang disandangkan untuk ku terlihat sangat indah, kadang pula nama itu menjadi senjata peremuk isi tubuh ku.
Sang Mata Jalanan adalah nama yang ku berikan untuk diri ku sendiri, “Aku bebas, tak ada yang berhak atas ku, jadi nama pun aku yang memilihnya,” bela ku jika orang-orang menertawakan nama yang ku perkenalkan.
“ha ha ha... nama mu sangat tidak manusiawi sekali,” kadang cibir orang seperti itu, atau bahkan lebih kejam dengan mengatai ku “bodoh, nama kok, sang mata jalanan,” begitu kata mereka.
Tapi semua hanya bisa tertawa lebar, bahkan sangat lebar lihatku, tanpa ada yang mengerti jika ku memang sang mata jalanan. Yang sengaja hadir di dunia ini, untuk menambah jumlah populasi yang namanya manusia agar ku menyaksikan drama yang skenarionya telah di buat jutaan ribu tahun lalu.
Sang Mata Jalanan, kadang ku sangat bangga dengan nama itu. Kadang pula sangat ingin menghapus semuanya, kenapa harus seperti ini, tidak lazim, tidak normal dan tidak enak untuk di jalani.
Tapi semua keluh ku dalam setiap jalan panjang yang ku jejaki terkadang hilang begitu saja, ketika mereka ku pandangi, ku lihat lekuk mereka dalam-dalam, lekuk yang semakin hari semakin menua, rentah, tapi tetap ku agungkan.
Walau ku lahir hanya menjadi mata buat meraka, tapi meraka adalah cahaya ku. Sekurang-kurangnya apa yang mereka beri untuk ku, tetap ku anggap lebih. Tetap ku syukuri, aku bangga dan sangat bangga dengan keadaan ku saat ini.
“Tak kan ada dua cerita seperti ku di dunia ini,” bela ku dalam hati dengan sedikit rasa bangga.
Sang Pelahir ku adalah malaikat dalam hidup ku. Malaikat hidup, yang sungguh berani di mata ku. Cerita yang ku dapati dari paksaan hendak ku kepada meraka sangat miris. Meraka sama-sama di telantarkan sejak lahir.
Cacian, hinaan, hingga perlakukan tak manusiawi telah kami lalui. Bangga ku, karena orang yang ku sayangi ini tetap tersenyum, bahkan ketika anak-anak nakal di pinggiran gang sering kali merampas tongkat atau bawaan mereka.
Dia, Ayah dan Ibu ku masih bisa tersenyum, dan berbisik dalam lirihnya, “biarkan saja, tunggu sampai mereka puas,”. Saya sebagai mata jalanannya hanya bisa diam tak berdaya melawan anak-anak normal secara fisik tersebut.
Sungguh anugrah luar biasa, Ayah Ibu adalah orang yang ahli dalam pijat saraf. Tapi keahlian tersebut, kadang tak mendapatkan harga dari sebagian orang. “Kita sedang menolong orang, bukan meminta imbalan,” hiburnya jika keluhku karna perut sudah lapar.
Hari berganti, waktu terus berjalan, entah sudah berapa tempat yang kami jalani, singgahi dan membuat cerita. Semua berjalan pada jalannya, normal bagi kadar se usia ku dan setahu acuan normal ku.
Saat ini kami dipersimpangan jalan, berdiri tak tahu harus kemana. Keluh ku datang lagi, ingin berlari, bosan dalam ikatan mata jalanan ini.
Sedikit bentak terlontar dari bibir ku, sang Ibu yang sungguh penyayang kembali meraba muka ku dengan bujuk rayunya yang sering kali buat ku luluh. Kali ini lain, ditambahi dengan kecupan di kening.
Kecupan yang membuat ku hilang sesaat, baru kali ini ku rasakan begitu nikmat dilakukan Ibu yang telah melahirkan ku seperti ibu kebanyakan. Rasa damai bersama dengan kecupan itu, dalam kasih yang terpancar, ku melayang dan kembali luluh.
Tapi ku tetap kaku di tempat ku, mengeluh kecapean, seharian berjalan tak menjual satu pun barang yang didagangkan Ayah Ibu ku.
Sesaat kemudian, semua berubah, keluhan menjadi tak berarti lagi. Semua derita tak dipikul lagi, semua menjadi beda sesaat itu saja. Cepat hingga kedipan mata tak mampu menangkap semuanya.
Ku jadi sadar, inilah arti keluhan ku. Ku jadi bisu, inilah ulah ku. Semuanya karna ku, bahkan sebelum ku lahir ini menjadi salah ku. Riuhnya suasana, malah membuat ku terpaku, seakan saat itu lebih sepi dari malam-malam tak bergerak. Lebih senyap, bahkan di kedalama air laut sekali pun.
Hanya merah dan mobil terbalik lihat ku. Hanya itu, yah... hanya itu, tak kulihat lagi mereka yang melahirkan ku, mereka yang menyeret ku ketempat ini. Tempat dimana mereka lahir dan awal meraka bernafas. Tempat dimana darah mereka kembali menyatu dari darah orang tua sedarah.
Kini tinggal ku sendiri akan berjalan menyusuri malam dengan gerobak roda ku, menanggung beban darah dalam darah tubuh ku.
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!