![]() |
| image by google |
Tidak sedikit yang menerima pertanyaan itu merasa kesal karena seperti apapun jawaban yang diutarakan, si penanya tidak akan pernah puas. Alih-alih akan simpati, bisa jadi dipandang aneh dan tak punya kerjaan. Itulah mereka, selalu memandang kegiatan mendaki gunung sebagai satu hal yang buruk, tak bernilai sama sekali dan mereka bangga dengan pekerjaannya. Ini konsekwensi hidup.
Saya pun sering kali mendapat pertanyaan ini, dan setiap itu pula akan ku jawab "karena belum tahu apa yang saya cari, maka saya kesana". Biasanya kata-kata itu akan menghentikan pertanyaan bodoh selanjutanya, walau saya yakin orang-orang itu akan kembali dan bertanya lagi hal yang sama. Ah bodohnya...
Dalam banyak hal, setiap pendaki gunung akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan serupa. Hal ini pula yang terjadi kepada George F Mallory, pendaki gunung terkenal asal Inggris, mungkin cuma kesal saja ketika menjawab : because it is there, karena gunung ada disitu!, Mallory bersama seorang temannya, menghilang di Pucuk Everest pada tahun 1924.
Bagi sebagian besar pendaki gunung, mendaki bukanlah soal buang-buang waktu. Kita bisa belajar dari Soe Hok Gie, salah seorang pendiri Mapala UI, yang menuliskan kecintaanya pada gunung dalam sebuah puisi :
"Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup”. Bagi Soe Hok Gie, keberanian hidup itu harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Soe Hok Gie tewas bersama seorang temannya Idhan Lubis, tercekik gas beracun dilereng kerucut Mahameru, Gunung Semeru, 16 Desember 1969, dipelukkan seorang sahabatnya, Herman O Lantang.
Soe Hok Gie yang sehari-hari terlibat ketar ketir di dunia politik, mungkin menganggap petualangan di gunung sebagai arena untuk melatih keberanian menghadapi hidup. Mungkin pula sebagai pelariannya dari dunia yang digelutinya di kota. Herman O Lantang yakin bahwa sahabatnya itu meninggal dengan senyum dibibir.
Motivasi melakukan kegiatan di alam bebas khususnya Mendaki Gunung memang bermacam macam. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis seperti halnya kebutuhan-kebutuhan lainnya: Kebutuhan akan pengalaman baru, Kebutuhan untuk berprestasi, dan Kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat dan bangsanya.
Mendaki gunung adalah salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, disadari atau tidak. Semua ini sah, tentu saja.
Sebenarnya yang paling mendasar dari semua motivasi itu adalah rasa ingin tahu yang menjadi jiwa setiap manusia. Rasa ingin tahu adalah dasar kegiatan mendaki gunung dan petualangan lainnya. Keingin-tahuannya setara dengan rasa ingin tahu seorang bocah, dan inilah yang mendorong keberanian dan ketabahan untuk menghadapi tantangan alam. Tetapi apakah sebenarnya keberanian dan ketabahan itu bagi Pendaki Gunung ?
Peter Boardman, Pendaki Gunung asal Inggris, menjadi jenuh dengan pujian-pujian yang bertubi-tubi, setelah keberhasilannya mencapai Puncak Everest melalui Dinding Barat Daya yang sulit di tahun 1975. Peter Boardman yang kemudian hilang di Punggung Timur Laut Everest tahun 1982 menulis arti Keberanian dan Ketabahan baginya.
"Dibutuhkan lebih banyak Keberanian untuk menghadapi kehidupan sehari-hari yang sebenarnya lebih kejam daripada bahaya pendakian yang nyata. Ketabahan dibutuhkan lebih banyak untuk bekerja di kota daripada mendaki gunung yang tinggi."
Keberanian dan Ketabahan yang dibutuhkan ketika mendaki gunung cuma sebagian kecil saja dari hidup kita. Bahaya yang mengancam jauh lebih banyak ada didunia peradaban, di perkotaan ketimbang digunung, hutan, dalam goa, dan dimana saja di alam terbuka. Di gunung, masalah yang kita hadapi hanya satu "Bagaimana mencapai puncaknya, lalu turun kembali dengan selamat."
Beberapa psikolog beranggapan bahwa mereka yang menggemari petualangan di alam bebas adalah orang-orang yang mencintai kematian. Pernyataan ini mungkin ia bagi sebagian orang, mungkin tidak bagi kebanyakan. Mereka yang berpetualang di alam bebas sebenarnya begitu menghargai kehidupan ini. Ada keinginan mereka untuk memberi arti yang lebih bernilai dalam hidup ini.
Mereka berpetualang di alam bebas untuk mencari arti hidup yang sebenarnya. Tak berlebihan bila seorang ahli filsafat mengatakan: ”Didalam hutan dan alam bebas aku merasa menjadi manusia kembali.”
Petualang yang tewas di gunung atau kegiatan alam bebas lainnya, bukanlah orang yang mencintai kematian. Kematiannya itu sebenarnya tak berbeda dengan kematian orang lain yang tertabrak mobil di jalan raya atau terbunuh perampok. Yang pasti, Mereka tewas justru dalam usahanya untuk menghargai kehidupan ini.
”Hidup itu harus lebih dari sekedarnya”
Budi Laksmono yang tewas di gulung jeram Sungai Alas, Aceh, 1985.
Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.
Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal mendaki gunung, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia-sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba aja....!

awalnya saya juga berfikir apa gunanya pergi mendaki gunung dengan begitu banyak resiko yang menunggu, sampai akhirnya saya pernah sekali ikut mendaki dan ternyata seperti itu rasanya, berada di ketinggian itu memang menyenangkan
ReplyDeleteseperti tidak percaya, tapi terjadi. melihat dunia lebih hening, damai, hijau dan berawan, seperti tak tergambarkan... ah
Deleteeh terima kasih sudah mampir
Hening itu indah dan indah itu damai.
ReplyDeletesepakat
Deletemendaki gunung itu menurut ane melawan ego diri sendiri, bagaimana bisa bertahan dan juga mengajarkan kita untuk menaklukan tantangan.
ReplyDeleteujungnya, berhadiah ketenangan.