Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

11 December 2013

Klasifikasi dan Sistem Pendakian

ilustrasi by google
Setelah kita mengenal jenis pendakian gunung, selanjutnya kita mengenal klasifikasi dan sistem pendakian. Pada setiap jenis pendakian terdapat kesulitan yang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.

Secara umum klasifikasi pendakian dibagi menjadi enam tingkatan berdasarkan Sierra Club dan tingkat kesulitan :

Tingkat 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Tingkat 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Tingkat 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Tingkat 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Tingkat 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Tingkat 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).

Sedangkan untuk sistem pendakian, dalam banyak hal dibagi menjadi dua bagian yakni :


1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.

Kedua sistem ini bisa digunakan dalam pendakian di gunung-gunung Indonesia. Himalayan System bisa diterapkan di pegunungan Latimojong Sulawesi Selatan, dimana disana terdapat banyak puncak yang didatangi. Sementara Alpine System lebih dominan diterapkan di Indonesia yang memiliki kebiasan mendaki gunung beramai-ramai. Sistem inilah pula yang digunakan dalam pendakian di film 5cm.

Klasifikasi dan Sistem Pendakian Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!