![]() |
| Maskot |
Saya sendiri juga sering merasa demikian. Masih hangat dalam ingatan kita, kala Indonesia dan Malaysia harus bertemu di partai final sepak bola di pesta olahraga dua tahunan negara-negara asia tenggara, Sea Games ke 26 di Jakarta dan Palembang.
Bagaimana tingginya semangat masyarakat Indonesia ingin menyaksikan perhelatan itu, bukan karena tim nasional umur 23 tahun berlaga brilian sepanjang babak penyisihan, tapi karena lawannya adalah Malaysia. Begitu bersemangatnya warga negara ini, hingga nyawa dua orang harus melayang hanya untuk itu.
Lebih hangat lagi dan masih jadi perbincangan saat ini, adalah ungkapan ‘gadai’ bandar udara Indonesia untuk Malaysia. Sikap skeptis kembali muncul dibenak masyarakat. Memaki kesana kemari, menilai Malaysia tidak berpegang teguh pada perjanjian dan hanya menguntungkan pihak Malaysia saja.
Tiga bandar udara terpadat di Indonesia menjadi kerjasama dengan tiga bandar udara di Malaysia. Indonesia memasukkan bandar udara sukorno hatta Jakarta, ngurah rai Bali dan sultan hasanuddin Makassar. Sementara Malaysia menyertakan dua bandar udara yang dinilai tak cukup ramai. Bahkan ungkapan hanya hantu blao saja yang ada disana sempat terlontar, yakni bandar udara kucing dan penang.
Indonesia berang lagi akan ulah Malaysia ini. Apalagi masalah yang ternyata belum final ini sudah lebih dulu diributkan di televisi. Berbagai pakar dan bidang keilmuan tertentu dihadirkan untuk koar-koar sehingga menarik kesimpulan Malaysia memang salah, pokoknya salah saja.
Sudah cukup banyak memang, masalah yang dihadapi Malaysia dan Indonesia sejak dulu kala. Mulai tapal perbatasan hingga ke masalah budaya, dari tari-tarian hingga lagu daerah. Bangsa Indonesia terus mengklaim pemilik asli dan Malaysia pembajak, yang intinya pembajak saja.
Sebagian dari kita bahkan telah mempatri dalam dirinya bahwa Malaysia ini adalah bangsa yang selalu ingin mengganggu ketentraman warga Indonesia. Mereka harus dimusnahkan dan dibantai hingga lenyap dipermukaan bumi, disapu rata dengan air bahk laiknya tsunami di aceh 2006 silam.
Tapi sangat sedikit dari kita yang ingin menarik pelajaran dan mengakui jika Malaysia memang hebat. Bangsa asia tenggara yang memiliki peran besar, kebudayaan dan kemajuan yang pesat. Sumber daya dan indeks pertumbuhan manusianya jauh dari Indonesia.
Kita hanya sibuk menghakimi dan menghujat, sementara yang dihujat tak peduli, bahkan terus berkarya akan kemajuan bangsanya. Saya hanya ingin menarik ingatan kita semua, dari sederetan ketegangan Indonesia dan Malaysia selama ini, apakah informasi yang kita dapatkan sudah seimbang atau berat sebelah. Hanya karena ini bangsa kita, bangsa lain itu salah.
Bukan ingin membela Malaysia, bukan juga menyalahkan Indonesia. Tapi kita belajar, dari diri pribadi saya sendiri, bahwa ada yang tak biasa dari kebiasaan kita. Kita baru bersorai ketika ada yang dianggap Malaysia miliknya. Padahal ketika itu tidak dibicarakan, apakah kita peduli?. Atau, apakah sekarang kita peduli dengan apa yang kita miliki?
Tak bisa lepas begitu saja, dan menyepelekan kebertautan budaya kita dengan Malaysia. Indonesia dan Malaysia adalah rumpung melayu. Tak heran jika banyak yang sama dengan Malaysia, baik dari budaya hingga ke bahasa, kita hampir sama.
Cuma karena ada tensi besar akan ketertinggalan kita dengan Malaysia, apa-apa saja Malaysia salah. Tidak ingin mengetahui lebih jauh, benar tidaknya mereka salah. Sudah menjadi rahasia umum jika keterbukaan Malaysia itu terbatas, tapi pasti ada penjelasan akan semua itu.
Dari pada sibuk menghakimi bangsa lain, alangkah baiknya kalau kita bangun bangsa ini dengan kerja pintar dan berpikir pintar. Menghilangkan kepentingan sesaat atau pribadi dan berusaha membangun dari hal yang kecil, meningkatkan kepedulian sesama dan tidak mudah terpengaruh dengan pertikaian yang hanya membuat kita stagnan dalam berkarya.
Akan ada saatnya jika memang dibutuhkan, Indonesia akan memberi efek jera pada Malaysia jika hal itu benar-benar telah salah. Tapi sebagai warga negara biasa, kita tidak usah terpaku akan itu. Kita berperan saja dalam pembanguan sumber daya manusia yang baik. Membangun Indonesia dalam kebersamaan.
Jika dalam olahraga saja kita bisa, dalam segala lini kehidupan kita juga pasti bisa…!
Salam dari Makassar

0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!