![]() |
| by google |
Dua hari ini Makassar bagai sebuah kota huru hara yang mengulang sejarhanya lagi. Namun sejarah yang diulang memiliki cerita dan alasan yang berbeda. Jika dulu (tahun 1996) Makassar menggelar aksi perjuangan atas naiknya harga BBM yang berimbas pada tingginya biaya angkot dari Rp300 menjadi Rp500.
Kondisi itu memancing aparat keamanan yang saat itu masih satu payung (Tentara Nasional Indonesia) harus merengsek masuk ke kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan menelan tiga orang korban yang belakang dinobatkan sebagai Hari Amarah (April Makassar Berdarah) dan mendapat simpati masyarakat, saat ini sebaliknya.
Jika dulu (2005) aksi Makassar murni memperjuangkan pengusutan tuntas Amarah (1996) yang belum jelas hingga kini, apakah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) atau tidak? yang berimbas masuknya puluhan kompi Polisi ke kampus yang sama dan membabi buta mahasiswa yang walau sedang belajar dianggap pembuat onar (asalkan dia lelaki) dianggap salah, kini tidak lagi. Issu yang mahasiswa bawa kali ini lain, lebih ke humanis yang sebenarnya tidak manusiawi dan sama sekali tak mendapat simpati dari masyarakat luas.
Humanis karena mengangkat issu korupsi yang tentu jika ditelaah memang memiliki pengaruh besar kepada masyarakat luas yang terjebak dalam politik praktis dan taktis atau politik beras seliter. Namun kehumanisan aksi mahasiswa yang beraksi atas nama rakyat Indonesia tersebut malah membuat masyarakat yang dibela tak ibah, bahkan sebaliknya, merasa dirugikan dengan aksi yang tak kenal siang dan malam, tak kenal ampung baik dia tua maupun muda, sama saja, polisi bagi mereka adalah musuh yang harus di hancurkan.
Dua hari ini Makassar bagai kota tak bermoral (maaf kata itu mungkin kasar, tapi nyatanya demikian). Bagaimana tidak, aksi sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam berbagai elemen, organisasi dan gerakan yang mengatasnamakan mahasiswa melakukan aksi anarkis lagi. Hampir semua media lokal maupun nasional menjadikan anarkisme mahasiswa Makassar itu sebagai head line lagi. Sungguh suatu kebanggan bagi mahasiswa tersebut, meraka mendapat simpati lagi dengan menjadi pusat perhatian semua mata di Indonesia bahkan dunia, kebanggan yang menurut saya keliru karena menonjolkan citra buruk dan makin mempertajam kebodohan yang dilakukan.
Bodoh karena bertindak sama halnya dengan preman yang tak berpendidikan dan lebih mengutamakan kekerasan dalam melakukan tindakan penyelesaian. Sebenarnya meraka adalah ahli-ahli intelektual, yang cakap berpikir dalam forum semisal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan organisasi lain yang berdedikasi pendidikan dan humanis, namun sayang tindakan dan kebobrokan yang diperlihatkan di jutaan mata manusia di Indonesia, lain dari apa yang didapatkan di organisasi tersebut.
Siapa melawan siapa, apa dan bagaimana yang diperjuangkan saat ini sudah kabur. Peringatan Hari Anti Korupsi se Dunia sudah tidak pada subtansinya lagi. Tindakan melawan Polisi sebagai pengayong masyarakat, sudah berada diluar jalur perjuangan yang menginginkan kebebasan korupsi di negara ini. Bukan saya membela polisi dan mengangap mahasiswa 100% salah dalam menyikapi kasus yang terjadi di Makassar dua hari ini, namun sebagai masyarakat bahkan mahasiswa sendiri, membutuhkan polisi dalam hal keamanan. Jika kita melawan Polisi, dan mengangap mereka salah, kepada siapa kita harus meminta perlindungan keamanan.
Selama ini media selalu berpihak kepada tindakan mahasiswa, dan seakan-akan tindakan polisi itu salah karena melakukan tembakan dan memukuli para demonstran (dalam hal-hal tertentu memang terdapat kesalahan) Namun nyatanya perhatian dan keberpihakan media kepada mahasiswa membuat mahasiswa makin menjadi-jadi. "Kita dibela media kok, tetap yang salah itu polisi" ungkapnya yang terus melakukan aksi. Tapi sadar atau tidak, sikap media ini malah makin membuat mahasiswa ke-ge-eran.
Entah bagaimana sikap mahasiswa di daerah lain di negara ini, namun yang jelas hal ini terjadi di Makassar dan sekitarnya. Contoh, saat peringatan hari anti korupsi dua hari lalu, beberapa mahasiswa yang ada di kabupaten kota seperti di Bone, Parepare dan Palopo tidak melakukan aksi lantaran mengangap dirinya takkan dilirik media karena aksi yang berlagsung di Makassar lebih duluan anarkis yang tentu menjadi pusat perhatian media.
Ini satu bukti nyata media memiliki peranan penting dalam merusak dan membuat keonaran seperti tindakan anarkir. Karena ada beberapa hal yang ingin digapai mahasiswa, entah mau dicap sebagai pembela masyarakat, atau bahkan ada yang mau terkenal dengan dimuatnya gambar-gambar mereka di media cetak dan elektronik. Memang, ini adalah pekerjaan dan menghasilkan buat para wartawan karena memiliki sumber berita, namun sayang, masih banci kameranya beberapa mahasiswa menjadikan tindakan ini tak mampu di tolerir lagi.
Mungkin, (sekedar saran) sudah saatnya media bersikukuh tidak menindak lanjuti aksi mahasiswa dengan cara tidak meliput atau bahkan meliput namun memberitakan hal yang sebenarnya. Jika mahasiswa yang salah, ditulis mahasiswa yang salah dan memulai membuat onar, begitu juga sebaliknya. (bukan untuk mengkaji hasil kerja media selama ini, yang jelas masalah bentrokan mahasiswa dan polisi, main set masyarakat melalui pemberitaan selalu menyalahkan pihak keamanan dengan menampilkan potret kesalahan polisi). bersambung....!

0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!