Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

30 August 2010

Antara Hadiah dan Perekonomian

Tic tac toe.Image via Wikipedia
Melihat geliat para provider telekomunikasi yang gencar-gencarnya memasang iklan gratis sana sini hingga janji hadiah segala, buat para pengguna dalam hal ini saya katai sebagai pembeli dan provider sebagai penjual membuat saya berpikir jauh kedepan.

Bukan masalah, gratis atau janji hadiah yang akan diberikan, tapi masalah manja memanjakan konsumen. Jujur secara pribadi, saya sangat ingin semua operator seluler di Indonesia bisa mengratiskan fasilitas telfon dan SMS-nya.

Tapi pernah kita semua berfikir, masyarakat Indonesia saat ini sedang berada pada taraf konsumen konsuntif berlebihan atau bahasa kerennya "tukang makan saja".



Baiklah, jika provider telekomunikasi bisa sikut-sikutan terkait istilah gratis-gratisan dan hadiah-hadiahan. Tapi jika semua sektor usaha melakukan hal serupa, apa yang akan terjadi?.

Pasti sebagai konsemen, kita semua akan menyambut baik kejadian ini, tapi sebagai pengusaha yang dipundaknya dibebankan pertumbuhan ekonomi bangsa, akan berbuat apa. Coba bayangkang, jika istilah siapa kuat dia penguasa yang berlaku, akan bagaimana usaha kecil menengah menanganinya, padahal kita semua sangat berhutang budi pada sektor yang dulunya tak dilirik ini dengan mampunya menyelematkan Indonesia dari krisis global.

Rasa takut berlebihan saya rasakan melihat kejadian ini, rasa takut jika masyarakat Indonesia terlanjur terbuai dengan janji-janji hadiah. Bayangkan saja, saat ini produk apalagi yang tidak ada undian berhadiahnya. Mulai dari penjualan mobil, motor, sabun mandi, sendal, bahkan produk sensitif wanita semisal pembalut pun ikut-ikutan menggelar promo berhadiah serta banyak lagi yang lain.

Tapi pernah anda berpikir, semua pemain berhadiah itu adalah orang-orang kelas berat, nah loh, bagaimana yang kelas kecil dan menengah? Entahlah!, mungkin juga saat ini masih belum apa-apa, karena semua mata sedang tertuju pada ekonomi sektor unik ini, tapi kedepannya, bagaimana? akan bertahan seberapa lama, jika pemain-pemain kelas berat tersebut menjanjikan hadiah mulai dari hadiah kacang-kacang hingga hadiah rumah bahkan hadiah perjalanan rohaniah.

Kalau sudah seperti ini siapa yang tidak mau, dan siapa yang akan memilih produk yang sama sekali tidak ada hadiahnya, walau secara defakto bisa saja produk berhadiah tersebut sama sekali tidak berkualitas, karena bukan produknya yang dijual tapi hadiahnya.

Bukan menjadi masalah besar memang ketika para pemain besar saling sikut, bahkan bisa dikatakan, konsumenlah yang akan mendapatkan keuntungannya. Bagi saya, disinilah letak kesalahannya, ketika konsumen hanya tinggal diam menanti yang gratis lagi dan hadiah lagi.

Jika sifat konsuntif semacam ini terus berlaku, yakin dan percaya istilah pembeli adalah raja, bukan lagi sebatas istilah, bahkan istilah ini akan naik tahta satu kasta menjadi pembeli adalah penyuruh. Kalau ini berlaku, daya beli mayarakat bisa malah akan merosot, karena keterbuaian dengan kata hadiah dan menunggu hadia-hadian yang lebih menarik selanjutanya, dan benarlah sudah istilah yang kaya tetap kaya yang miskin tetaplah miskin.

Semoga saja yang saya khawatirkan ini benar-benar tidak terjadi, seperti kekhawatiran Gappri (Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia) tahun 1987, dimana saat itu konsep hadiah dari produk rokok menjadi raja, sehingga dikhawatirkan jika ini terus dilakukan malah akan menimbulkan kesenjangan sosial dan persaingan tidak sehat.

Akhirnya pada 16 Juli 1987, Gappri sepakat untuk menghentikan undian berhadiah tersebut dan berjayalah produsen rokok Indonesia hingga sekarang, bahkan produsen rokok kacangan pun saat ini sudah mulai besar. Coba bayangkan jika saat itu Gappri tak menyadari dampak dikemudian hari, mungkin hanya segelintir merek rokok yang kita tahu.

Lalu, bagaimana dengan produk yang lainnya? Silahkan menunggu tanggal mainnya...:D

Lihat juga postingan saya di Kompasiana.com
Enhanced by Zemanta

Antara Hadiah dan Perekonomian Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!