Memasuki setahun sebelum datangnya pasar tunggal ASEAN 2015, dimana negara ini adalah market paling besar, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap akan tumbuh di 2014, begitu pula Sulawesi Selatan. Peluang besar di depan mata itu bisa diraih jika semua pihak tidak membuang kesempatan.
Tahun politik di 2014 juga menjadi pemicu penyelaras perekonomian, namun ancaman pelemahan rupiah masih menghantui. Sulsel yang digerakkan oleh sektor pertanian pada dasarnya diuntungkan di 2014 apalagi ekspor dan konsumsi domestic menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di 2013.
Hanya saja institusi keuangan perlu memerhatikan banyak hal, di antaranya penguatan modal dan penerapan manajemen risiko. “Saya yakin, tahun 2014 lebih baik meski downside risk tetap ada. Potensi tumbuh Sulsel jauh lebih besar,” kata Noor Yudanto, Peneliti Madya Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua).
Walau masih dilanda ketidak stabilan ekonomi global, Sulsel punya pelung besar tumbuh diatas perekonomi nasional. Sektor seperti property, perdagangan, hotel dan restoran tetap akan memberi andil besar, ditambahan semakin tingginya minat investor menanamkan modalnya di Sulsel.
Properti misalnya, tahun ini cukup memberi andil besar dalam percepatan pembangunan. Estimasi Real Estate Indonesia (REI) Sulsel tahun ini mengungkapkan terjadi peningkatan penjualan hingga Rp3 triliun lebih, pada 2014 mendatang penjualan property akan naik hingga 25 persen mencapai Rp4 triliun lebih.
Ketua REI Sulsel Raymond Arfandi menilai peningkatan itu dipicu akan tingginya pertumbuhan tipe menengah keatas ditahun depan. Kawasan seperti Tanjung Bunga dan kawasan bisnis Panakkukang bakal menjadi tujuan investasi pengembangan besar seperti Lippo Group, yang sudah mulai membangun pondasi dasarnya tahun ini.
Pengembangan properti untuk segmen kelas menengah ke atas tersebut akan menyasar jenis real estate seperti apartemen, kondominium hotel (kondotel) dan perumahan dengan klasifikasi mewah. Bukan hanya investor nasional, sejumlah universitas di Makassar tahun depan juga akan unjuk kemewahan dengan bangunan bertingkatnya.
Walau begitu, bukan tidak ada hambatan pasar property di Sulsel. Regulasi loan to value yang dikeluarkan Bank Indonesia akan cukup mempengaruhi laju ekspansi pengembangan properti yang sedikit tertekan di Sulsel, namun tidak akan sampai menggangu pasar property.
Agar menjaga kestabilan yang terjadi tahun ini, semua pihak harus sinergi menyelesaikan kendala, tantangan, dan pekerjaan rumah yang bisa menghambat laju ekonomi dan pembangunan. Salah satu yang harus dilakukan adalah bertransformasi dari natural based menjadi innovation based, pembangunan berbasis inovasi.
Salah satu pilihan adalah mendorong hilirisasi produksi ekspor, selain dapat meningkatkan nilai tambah juga akan membantu keseimbangan neraca perdagangan.
“Untuk maju, dibutuhkan konsistensi kebijakan larangan ekspor bahan mentah, menjamin ketersediaan pasokan listrik, mengoptimalkan iklim usaha termasuk mengenai kemudahan usaha, kepastian hukum, register hak pribadi dan penyelesaian insolvency, enforcing contract,” ujar Suhaedi, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah I Sulampua.
Industrialisasi yang dicanamkan Pemerintah Provinsi Sulsel khususnya di wilayah bagian selatan Sulsel, seperti Gowa, Jeneponto dan Bantaeng disatu sisi akan memiliki peluang besar, namun akan menjadi tumbal jika tidak didukung oleh regulasi yang baik dan penyediaan energy memadai.
“Seluruh kebijakan dari tingkat pusat pun harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah,” kata Ekonom Universitas Hasanuddin Makassar Hamid Paddu.
Beberapa program pembangunan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) memang dipusatkan di Sulsel, sehingga nantinya menjadi jembatan penghubung. Namun program seperti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Berikit (KB) belum tersingkronisasi dengan baik.
Inilah yang menjadi catatan penting di 2014. Dimana pemerintah pusat dan daerah harus menyelaraskan tujuan agar tidak timpang tindih.
2014 akan menjadi tahun penting bagi pembentukan ekonomi Sulsel, jika tidak mampu membangun system perekonomian yang baik, memasuki 2015 yang lebih terbuka, pasar bebas akan melibas seluruh aspek perekonomian lokal baik makro maupun mikro. Penyelesaian seluruh infrastruktur pendukung pun harus segera dilakukan.
Walau diberbagai sektor ekonomi akan tumbuh, sektor otomotif, tahun depan diperkirakan akan stagnan. Selain karena sektor otomotif sangat berkaitan dengan perekonomian global, pengetatan likuiditas dalam negeri juga membuat pasar otomotif tidak begitu bergairah.
Apalagi sektor ini akan mengalami cobaan terberat dengan masuknya berbagai pabrikan baru di Sulsel. Persaingan yang tinggi dengan kemungkinan inflasi meningkat, akan membuat sektor ini stagnan dan cenderung menurun. Walau begitu, pelaku di industry otomotif tetap optimis tumbuh ditahun depan.
Industri pariwisata Sulsel sebenarnya memiliki peluang tumbuh. Asalkan promosi berjangka dan terarah bisa dilakukan. Ketua Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Sulsel Didi L Manaba menilai, kontribusi sektor pariwisata bisa jauh lebih besar asal sarana pendukung dilengkapi.
Di sektor perdagangan, nikel, kakao dan hasil bumi lainnya masih yang utama. Pembangunan pabrik pengolahan biji nikel beberapa akan beroprasi di 2014, walau sebagian besar nanti 2015, namun kemungkinan besar sektor tambang akan mengalami dampak dari berlakunya UU Minerba.
Begitu pula dengan kakao, pabrik pengolahan akan lebih banyak dan pemerintah sendiri telah berkomitmen memperluas lahan yang harus diremajakan melalui program Gernas Kakao. Meskipun pertanian merupakan sektor yang volatile terhadap cuaca, kebijakan dan harga tetap akan menjadi tulang punggung pertumbuhan.
Jika dihampir semua sektor perekonomian Sulsel akan membaik di 2014, satu hal yang tidak boleh dilupakan, pengurangan jumlah pengangguran.
Pada triwulan III-2013 memang memperlihatkan trend penurunan di tingkat pengangguran dari 5,9 persen menjadi 5,1 persen. Sektor primer (sektor pertambangan dan penggalian) berhasil menyerap banyak tenaga kerja, demikian juga sektor sekunder (sektor bangunan; serta sektor angkutan dan komunikasi).
Namun Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel La Tunreng menilai, masih dibutuhkan peningkatan keterampilan dan kemampuan kerja bagi pekerja di Sulsel. “Standar pekerja di ASEAN sudah tinggi, jika kita tidak mampu mengejar, 2015 akan banyak tenaga kerja asing di Sulsel,” ujarnya.
Bank Indonesia juga telah mencatat, angka partisipasi sekolah hingga tingkat SMA/SMK di Sulsel masih relative biasa. Padahal investasi pengembangan SDM merupakan investasi jangka panjang yang juga akan memperkecil ekses kesenjangan antara kaya dan miskin.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) memang harus diperhatikan. Disinilah peran serta semua pihak dibutuhkan, karena sisa setahun perdagangan bebas dibuka. 2014 adalah momentum memperbaiki pondasi, memasuki pasar bebas yang lebih sekuler. ***
16 December 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!