Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

08 December 2013

Goodbye Bafana Hingga Invictus

Nelson Mandela
Kabar kematian Nelson Mandela cukup menggemparkan dunia. Bapak perdamaian yang telah memberi banyak inspirasi itu pergi dalam usia 95 tahun. Mendela pergi meningalkan sejarah. Meninggalkan teladan dan inspirasi, bukan hanya bagi bangsanya, tapi diseluruh dunia, termasuk Indonesia.

Mandela telah menjadi sumber energi yang mengubah kebencian menjadi cinta, permusuhan menjadi persahabatan, balas dendam menjadi pengampunan. Ia membalas pandangan mata yang penuh kesinisan dengan senyuman yang memberi rasa nyaman dan teduh. Mandela membalas tolakan dengan rengkuhan dan rangkulan penuh damai. Ia yang semula terbuang telah menjadi batu sendi kekuatan bangunan Afrika Selatan yang baru.

Itulah Mandela, kita semua tahu itu.

***

Ahad 8 Desember, semua kenangan tentang Mandela muncul kembali. Sebenarnya sejak 6 Desember lalu saat berita kematian Mandela diumumkan kepada dunia, tulisan ini ingin kubuat. Namun baru kesampaian, setelah mengingat-ingat dua film tentang Mandela yang sempat saya tonton dulu.

Goodbye Bafana, film yang rilis 2007 silam adalah film pertama yang dibuat terinspirasi dari kehidupan Mandela saat menjalani masa tahanan selama 27 tahun di negaranya. Film yang dibintangi Dennis Haysbert sebagai Mandela dan Joseph Fiennes sebagai James Gregory itu memberi kita gambaran mengenal Mandela.

Film yang di IMDB mendapat rating 7 dari nilai tertinggi 10 itu secara utuh mengisahkan persahabatan Mandela dengan Gregory sebagai sipir penjara dimana ia ditahan. Alur cerita film yang disutradarai Bille August ini cukup memikat dengan dialog dan penggambaran persahabatan sipir dan tahanan.

Film yang berdurasi 118 menit itu memang lebih banyak mengangkat kisah tentang James Gregory yang sering menghadapi resiko karirnya terancam karena menuruti katahatinya melayani Mandela.

Dalam film ini James Gregory tergambar menjadi seorang laki-laki baik, punya idealisme, punya tanggung jawab menafkahi keluarga, punya rasa kemanusiaan dan ‘sekedar’ pegawai rendahan yang ingin berbuat sesuatu.

Dia mengambil resiko bercakap-cakap dengan Mandela, hal yang dilarang dilakukan oleh seorang sipir kepada seorang tahanan politik. Dia berani ‘menyelundupkan’ coklat dari Mandela kepada Winnie Mandela istri Mandela dengan resiko di mutasi ke penjara lain.

Namun kemudian ketika angin politik berubah, Gregory mendapat anugrah mendampingi Mandela ketika menikmati tahanan rumah. Dia juga yang kemudian menjadi saksi bagaimana Mandela setelah bebas, politik Apharteid berakhir, terpilih menjadi presiden, mengampuni kaum kulit putih dan mengajak orang kulit putih membangun bangsa.

Film ini layak tonton dan dijamin memberi inspirasi.

Berselang dua tahun, film tentang Mandela kembali diangkat kelayar lebar oleh sutradara Clint Eastwood. Film yang rilis 2009 itu berjudul Invictus dan diperankan oleh pemain hollywood legendari Morgan Freeman sebagai Mandela dan aktor muda berbakat Matt Damon sebagai Francois Pienaar.

Film yang mencuri perhatian kritukus film dunia ini sekaligus mengantarkan Morgan Freeman meraih aktor terbaik di ajang Oscar 2010 bersama Matt Damon sebagai aktor pemeran pendukung diajang yang sama. Selain berjaya di Oscar, Invictus ditahun itu juga merajai hampir semua festival film bergensi dunia.

Dalam Invictus, Mandela dikisahkan menggunakan olahraga rugby sebagai metode membangun kebersamaan di Afrika Selatan.

Film yang berkisah di tahun 1995 ini, memperlihatkan Nelson Mandela dengan berani mendatangi pertandingan piala dunia rugby di Stadion Ellis Park, Johannesberg. Dia mengenakan seragam tim Afsel yang kala itu merupakan simbol supremasi kulit putih di bawah tatapan ribuan pasang mata yang memenuhi stadion tersebut.

Dengan visi yang luar biasa, dia bisa menjadikan ajang Piala Dunia Rugby 1995 sebagai instrumen untuk membangun rasa persatuan. Dan sejak saat itu, Mandela mengundang perhatian dunia dan patut disejajarkan dengan Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr yang menyampaikan kehendak, gagasan tidak dengan kekuatan tentara dan senjata.

Invictus merupakan film wajib nonton sebelum akhirnya menyaksikan film tentang Mandela terbaru, Mandela: Long Walk to Freedom. Khusus untuk Mandela: Long Walk to Freedom akan dibahas tersendiri, karena film terakhir lebih kompleks memberi gambaran Mandela secara utuh, mulai kecil, dewasa hingga jadi presiden.

Akhir kata, jika kita tidak sempat mengenal Mandela lebih dekat, setidaknya kita pernah mendengar namanya dan mencacatnya dalam secara politik dunia. Terima kasih Mandela, atas jasa mu kepada dunia, semoga damai. Tulisan ini sekaligus dedikasi kepada Mandela yang suka sekali memakai batik Indonesia.

"It is an ideal for which i am prepared to die."
Nelson Mandela

Goodbye Bafana Hingga Invictus Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

4 komentar:

  1. Saya belum pernah nonton film itu sob tapi kayaknya udah pernah dengar judul filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nontonlah, bagus dan mengisnpirasi. file filmnya ada sama saya, kecuali yang long walk to freedom, belum ada.

      btw apa kabar sob?

      Delete
    2. Alhamdulillah baik2 aja sob. Tapi kayaknya sobat nggak bakalan kasih ama saya film itu kan? :D

      Delete
  2. boleh, asal menampakkan wujud aja hehehe

    ReplyDelete

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!