Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

22 April 2012

Seri Pertama : Kunci

Ilustrasi by Google
Jajaran pohon sukun yang mengitari lapangan bola dengan sulur-sulur daun lebar yang menjuntai terlihat banyak menguning dan berjatuhkan. Tertumpuk dan menjadi sampah hingga keruang-ruang kelas yang telah sepi penghuni. Penghujung tahun ajaran setelah pengumuman kelulusan.

Tiada lagi aktifitas berarti setelah eforia kemenangan akan kerja keras tiga tahun tanpa henti mampu ditaklukkan. Bahkan jadwal bersih-bersih pekarangan sekolah telah dilupakan. Semua bergembira akan kelulusan. Kecuali tiga orang kawan ku Syahril, Bahar dan Arman. Mereka tak bisa tersenyum atas pengumuman yang baru saja dibacakan kepala sekolah.


Cuaca terik dinafikkan. Namun tidak dengan Syahril. Hatinya merundung bagai diterjang badai. Tak paham dia dengan pengumuman kelulusan yang seakan tak mengijinkan dia merdeka. Tidak seperti dua kawan ku yang lain, Bahar dan Arman yang memang legowo dengan ketidak lulusannya.

Wajar. Arman sudah dua kali tidak lulus dalam ujian. Dan kegagalannya kali ini membuat dia bulat untuk tidak lagi bersentuhan dengan pendidikan. Dia akan fokus menjadi pengrajin perahu phinisi seperti kebiasaanya selama ini, bolos sekolah dan memili belajar menjadi seniman perahu phinis.

Sedangkan Bahar telah mewanti-wanti akan merantau ke Malaysia jika tidak lulus. Sebagian besar keluarga Bahar memang telah merantau ke Malaysia dan bekerja di perkebunan sawit. Sering kali kesuksesan saudara dan keluarganya ia cerita dengan bangganya, dan berjanji akan mengikuti jejak mereka.Walau telah legowo, tetap saja dua kawan ku ini sedih tak mampu ikut bergembira dengan teman-teman lain. Merayakan kemerdekaan dibangu SMP.

Seluruh penghuni sekolah tidak ada yang menyangka Syahril tidak lulus. Si jenius yang selama ini berlangganan dengan peringkat 1 itu kandas ditiga mata pelajaran yang baru saja diterapkan pemerintah dengan sebutan UAN -Ujian Akhir Nasional-. Dia yang menempati kelas unggulan, 3-1 selalu menjadi pembicaraan setiap tahun karena kejeniusannya dan keunggulannya dalam setiap perlombaan tingkat kecamatan hingga kabupaten.Lomba apapun dia lahap, terutama dalam ilmu pengetahuan alam dan matematika.

Di akhir masa sekolah di tingkat pertama ini, Syahril kembali membuat seisi sekolah membicarakannya. Namun kini akan ketidak lulusaannya. Seakan seluruh jerih payahnya selama ini membuat bangga sekolah tidak memiliki arti. Penilaian dari tiga mata pelajaran, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika mematikan langkahnya. Ketiga mata pelajaran itu ia gagal, sulit dipercaya memang tapi terjadi.

Pihak sekolah terutama wali kelasnya telah memberi nasihat kepada Syahril agar tidak menyerah begitu saja. Bisa jadi telah terjadi kesalahan fatal akan hasil ujiannya. Pihak sekolahpun berjanji akan mengecek kembali hasil yang dikeluarkan pemerintah itu. Atau alternatif lain, dia akan diikutkan Paket C yang akan menyusul belakangan. Pihak sekolah berjanji akan memberikan bantuan kepada Syahril.

Tapi tetap saja kemurungan menyertai diri Syahril. Ketika hampir seluruh siswa kembali kerumah mengabarkan kabar gembira, dia masih berdiam diri di sekolah. Di bawah pohon sukun yang rindang yang terlihat sejuk dari terpaan matahari, Syahril duduk dipagar pembatas lapangan dan pekarangan kelas. Tertunduk, sesekali menatap jauh dengan mata berbinar.

Selepas shalat dhuhur di mushollah sekolah di bagian depan, saya berniat untuk kembali. Saya sengaja pulang terlambat untuk memberi kejutan kepada orang rumah. Kejutan istimewah diakhir masa sekolah yang penuh dengan kenangan manis. Aku menjadi juara kelas setelah tiga tahun terdampar di posisi 5. Bangga rasanya, ditambah posisi ku di sepuluh besar siswa terbaik akhir tahun menjadi pelengkap, walau hanya penutup kesempurnaan angka 10.

Kerja kerasku akhirnya terbayar mahal dan harapan memasuki sekolah unggulan terbuka lebar.

Kulihat sepintas Syahril belum juga bergerak dari tempat duduknya. Ku sambangi dia. Duduk disampingnya dan terdiam beberapa saat. Tak kutemukan kata-kata pembuka pembicaraan yang pas agar dia tak merasa sedih lagi. Ingin menghibur dan memberi semangat tapi ku terlalu bahagia untuk harus ikut bersedih dan merasakan rasanya menjadi Syahril.

“Jadi, akan lanjut dimana kamu sekolah” Syahril membuka pembicaraan dengan wajah berusaha tegar. Saya yang tak menyangka pertanyaan itu hanya bisa melengoh sembari membelalat sedikit kikuk.

“Belum tahu” kawabku sekenanya.

“Pilihlah sekolah yang baik, yang mengerti akan kemampuan siswanya, kalau bisa di Makassar, yang fasilitasnya telah lengkap, jangan disini” katanya menasehati.

Saya yang berniat untuk memberi dia semangat malah diberi wejangan. Tapi kata-katanya mengena dan membuai dalam diriku. Kata-katanya itu adalah impiannya dulu. Impian yang telah ia bangun dengan sabar dan penuh dengan harapan. Tekad untuk membangun masa depan lebih baik. Karena merasa sudah gagal, ia rela membagi impian kepada kawan-kawannya, termasuk saya yang memang telah kenal sejak dibangku sekolah dasar.

“Insya Allah, jika tuhan menghendaki akan kulakukan itu” kata ku sambil mengajaknya untuk pulang.

Walau ragu dan berpikir sejenak, Syahril akhirnya mau pulang bersama. Karena sekolah kami letaknya sangat jauh dari rumah dan harus dua kali menganti mobil pete-pete. Setiap hari kami harus berjalan kaki sepanjang dua kilo meter untuk menghemat biaya. Itupun kami lakukan ketika pulang. Sepanjang perjalan pulang bersama Syahril saya berusaha memberi dia nasihat agar tetap melanjutkan sekolah, tidak putus asa dan menyerah begitu saja.

Setelah berpisah dengan Syahril yang duluan turun dari mobil saya pun tiba didepan rumah setelah harus berjalan kaki lagi sepanjang 1 kilometer. Inilah kampung saya, Benjala, terletak 250 kilometer dari Makassar Sulawesi Selatan, berada dibagian paling selatan yang dulunya subur kini tandus dan sepi. Orang-orangnya hampir habis karena merantau, kebun-kebun ditinggal karena tak berpenghasilan lagi.

Di depan rumah tanpa pagar ku berdiri. Siap memberi kejutan kelulusan dan kejutan melanjutkan sekolah. ***

Seri Pertama : Kunci Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!