| Salah Satu Bagian Gedung |
“Mirip rumah penampungan” selorohku dalam hati. Tapi bukan, ini adalah gedung peninggalan Belanda yang memiliki nilai budaya cukup tinggi. Kini terabaikan dan malah menjadi tempat tidur singgah beberapa orang tanpa rumah. Malam itu sekitar Pukul 02.00 wita, kurasakan cibiran orang-orang yang hidup di tahun 1896 silam dihadapanku.
Dimalam hari, gedung ini bak rumah hantu. Hanya ada penerangan dari luar, dan nyaris tanpa aktifitas berarti. Kalau bukan sejumlah orang yang sehari-hari tidur disana, mungkin gedung berarsitektur neo klasik dan berciri Eropa abad ke-XIX ini tak pernah ditengok saat melintas disisi Jalan Riburane Makassar, dimana gedung ini terselip.
Namanya Societeit de Harmonie, Gedung Kesenian tertua di Sulawesi Selatan yang kini mangap-mangap, tak terurus, mungkin karena tua dan sudah usang. Gedung ini terakhir digunakan 2009 silam, “We Sangiang I Mangkawani” karya AM Mochtar yang menghiasi auditorium atau teater tertutup ditengah bangunan dipentaskan kala itu.
Selebihnya, setiap kegiatan mengambil lahan parkir. Itupun kegiatan seni yang menyindir pemerintah karena mengabaikan renovasi rumah para seniman ini. Dua kali sudah Kala Teater melayangkan protes melalui puisi, tari dan teater, di dua tahun sejak pemerintah berencana lakukan renovasi.
Ibarat manusia, gedung kesenian Makassar terkena serangan jantung. Dari luar terkesan tidak ada apa-apa yang terjadi, tapi coba masuk kedalam, jangtungnya bukan lagi kronis, tapi sudah hilang. Kegiatan tak ada lagi yang menghiasi hari-hari disana, hanya terlihat ramai saja pada malam minggu, selain dijadikan tempat nongkrong pelaku seni, deretan motor juga menghiasi.
Sejak 2009, gadung ini telah menghabiskan anggaran Rp2 miliar dari APBD Sulsel, padahal rencana awalnya hanya Rp900 juta. Alasannya, kesalahan renovasi. Jelas salah, hingga kini tak ada struktur resmi yang menjadi rujukan akan seperti apa rupa gedung kesenian satu dari tiga gedung serupa di Indonesia ini kedepan.
Salah dari awal. Terlalu banyak kepentingan dan sederetan lagi alasan kesalahan renovasi itu. Banyak pihak hanya berkoar-koar agar itu diselesaikan secepatnya, dengan tidak merubah konstruksi awalnya. Pernah juga terdengar kabar anggaran APBN akan masuk untuk menalangi renovasi yang terhenti tanpa bentuk itu.
Tapi entah kejelasannya kini. Semua makin buram, pengerjaan terhenti, kreasi seni juga terhenti karena biaya acara makin mahal. Ada kabar, jika separuh anggaran renovasi benteng Rotterdam akan dialihkan ke situ, tapi itu nampaknya angin lalu saja, semuanya tetap seperti renovasi awal 2009 silam, terbongkar tanpa tindak lanjut.
Seperti orang-orang yang setiap hari terbaring disana, begitulah nasib Societeit de Harmonie, terpinggirkan bersama dengan sejarah panjangnya. Padahal gedung ini pernah menjadi balai kota masyarakat Makassar pada 1942-1945, dimana saat itu jaman penjajahan Jepang sedang berlangsung.
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!