Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

24 July 2011

Kapolrestabes Makassar Meninggal Dunia

“Tak ada yang abadi, semua akan kembali ke Penciptanya lagi”

Ungkapan diatas benar adanya, bahkan tak mampu diragukan lagi jika itu mutlak, tak bisa ditawar-tawar sebulan, sehari bahkan sedetik, jika ia ingin datang bertamu pada kehidupan, dia akan datang dengan membawa apa yang ia minta. Iya, dialah kematian yang pasti akan menghampiri kita pula.

Tepat Pukul 03.45 wita dini hari waktu Makassar, sebuah pesan singkat masuk. Berhubung Minggu hari libur, jam segitu memang belum membuatku tertidur. Pesan yang membuat ku terkejut tak kala melihat sang pengirim yang tertera, Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Makassar AKBP Muhammad Hidayat.

–Apa yang membuat pak Dayat, sapa ku kepada beliau mengirim pesan singkat dipagi buta, awalnya saya pikir ada tangkapan pembalap liar lagi, tapi langsung kutepis karena sudah ada wadah khusus bagi pembalap liar atau sebutan pihak kepolisian, para pehobi balap untuk berekspresi dibelakang Trans Studio Makassar tepatnya di Sirkuit Mini-nya–



Tak ingin salah tebak, kantuk yang menghampiri berbarengan dengan kuasa cairan kenikmatan sesaat kuacukan. Langsung saja pesan itu ku buka dan membacanya dengan runut. Sedikit terkejut, tak habis pikir dan beranggapan jika Pak Dayat sedang bergurau lagi di pagi buta, seperti kebiasaannya yang khas –bercanda kepada kami-kami–

Pak Dayat memberi kabar jika atasannya, Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar Kombes Pol Muhammad Nur Syamsul telah meninggal dunia beberapa menit saat pesan singkat tersebut ia kirim kebanyak orang. Mobil yang kukendarai berhenti, membaca ulang pesan singkat tersebut, berharap saya sedang salah baca, tapi ternyata ketiga kalinya pesan itu kupelototi, huruf dan bunyinya tetap sama.

Isinya singkat –Innalillahi Wainnailaihi Rajiun, Bapak Kapolrestabes Makassar meninggal dunia, tolong bantuan tenaga kita semua berjaga di rumah duka– tulis Pak Dayat.

Kabar kematian memang selalu mengejutkan. Tapi kematian Bapak Kapolrestabes Makassar ini lebih mengejutkan lagi. Bagaimana tidak, baru saja seorang teman bercerita kepada saya jika dia dan pak Kapolrestabes cekcok diujung telepon sekitar Pukul 07.00 wita.

Teman saya ini kerjaannya memang mengekori aktifitas kepolisian. Jika terjadi satu hal di masyarakat, dia yang akan berang dan terus menghangtui polisi dengan sejuta pertanyaan menyudutkan. Dia baru saja mempertanyakan pengusutan kasus kepemilikan senjata api yang lagi marak di kalangan mahasiswa dan masyarakat biasa di Makassar.

Namun Kapolrestabes, karena mungkin sudah kecapaian diteror dengan pertanyaan itu-itu saja –bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan kasus-kasus senjata api di Makassar, belum satupun tangkapan pihak kepolisian yang diketahui masyarakat terkait siapa, dimana dan seperti apa rupa pelaku penjualan senpi (senjata api) yang katanya diperjual belikan di Facebook itu–

Kapolrestabes balik menuding teman saya itu sengaja mencari kelemahan dirinya dan institusinya. Kata dia kepada teman saya, dari kesaksian teman saya itu –Kau memang sengaja ya cari kesalahan saya– singkat cerita, terjadi kles kecil-kecilan yang pada akhirnya kapolres melunak lagi dengan menjawab pertanyaan teman saya itu.

Mendengar kesaksian teman saya ini, saya pula datang mengerocoki. –Hmm, memang dia itu, terlalu lamban dalam bertindak, tapi tenang saja, sebentar lagi dia akan diganti, mungki tidak akan sampai lebaran lagi– kata saya berselang 4 jam sebelum pesan singkat Pak Dayat mendarat di ponsel saya.

Inilah yang membuat saya begitu terkejut dengan kabar berpulangnya beliau. Kabar berpulangnya orang yang disetiap ada aksi berskala besar di Makassar selalu nampak dibagian belakang barisan polisi dengan tongkat kebesarannya, mengawasi, mengontrol dan membimbing adik-adik mahasiswa untuk tetap tertib.

Kabar kematian Pak Syamsul –sapaan beliau– tiba-tiba mengingatkan saya terhadap beliau, dengan senyum khasnya setiap kali saya berkunjung ke tempatnya. Senyum yang selalu ada diujung pintu ruangannya, saat melihat kami –saya dan beberapa teman saya yang hampir tiap hari berada disana– datang menghampiri.

Tak kusangka, dia yang menjabat hampir setahun ini –Sejak ramadhan tahun lalu– menghembuskan nafas terakhir begitu mendadak. Pagi kemarin dia masih terlihat ada diruangannya, beraktifitas seperti biasa, berseragam seperti biasa dengan dua bunga berwarna emas dipundaknya, seperti biasa tetap ada.

Kini, beliau harus kembali. Kembali tanpa pakaian, kembali tanpa aktifitas dan tanpa pangkat yang ia peroleh sejak menjadi manusia. Mantan Penyidik Bareskrim Polri ini, harus pergi dengan sejuta kenangan dan tumpukan kasus. Tapi inilah ketetapan sang ilahi, tak bisa ditawar dan tak bisa dielakkan.

Hanya seunggah kata maaf dan iringan doa menyertai beliau yang hingga kini belum ku ketahui penyebab kematiannya. Selamat jalan Komandan, semoga amal ibadahmu menjadi rujukan atas maaf dan ridho Tuhan di alam akhir mu. Kau tetap akan hidup dari nama dan jasa mu…

Kapolrestabes Makassar Meninggal Dunia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!