Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

06 September 2010

Gara-gara Sandal Jepit, Dipecat!

Sendal jepitImage by looooooks via Flickr
Sore sudah ketika saya muncul di kantor yang selama ini saya tempati bekerja, suasana tidak ada yang berubah, sama seperti hari-hari sebelumnya. Meja saya masih berantakan, bekas pekerjaan kemarin, dengan sedikit menarik nafas, ku legakan pikiran untuk memulai mengetik di komputer yang baru saja ku nyalakan.

Baru saja jari-jari ini menyentuk keyboard dan menulis satu kata “Makassar” suasana langsung berubah, ketika Bos keluar dari ruangnya, yang berada didepan pintu masuk sambil membawa sebuah laptop dan dengan suara tinggi memperingatkan kita semua yang ada dalam ruanga tersebut untuk perhatikan.



“Lihat ini, apa kalian tidak malu, dari sekian banyak pejabat yang menggunakan pakaian resmi, Dia berdiri sendiri dengan pakaian biasa dan sandal jepit, bikin malu saja,” ucap sang Bos yang baru sekitar enam bulan menjabat diposisi tersebut.

Sejenak saya berfikir itu adalah gambar salah seorang pejabat yang membangkan sehingga memaksakan diri untuk hadir diacara formal, namun setelah saya perhatikan orang dalam foto tersebut, bagitu kagetnya saya ketika mengetahui itu adalah Teman seprofesi saya, yang kebetulan teman baik dan berada disebelah meja saya duduk.

Dalam foto yang sudah Sang Bos jadikan Walpaper di laptopnya tersebut terlihat banyak orang penting yang menggunakan baju resmi, dan sangat rapi bahkan sampai-sampai terlihat jika acara tersebut menggunakan Red Carpet sebagai penyambutan tamu ala Pesta Holywood, namun disebelah dinding tersebut berdiri seorang lelaki berusia 24 tahun dengan baju kaos putih dan celana pendek merah dilengkapi sandal jepit merah yang dilehernya sebuah kamera profesional tergantung.

“Baru kali ini saya bisa melihat secara langsung buktinya jika memang sering kali dia tidak rapi ketika melakukan tugas dilapangan, untuk kalian semua, mulai hari ini tidak ada lagi yang pakai sendal ke kantor, kalau masih ada yang berani akan ditindak secara tegas bahkan akan dipecat,” ancamnya.

Sejenak saya berfikir, yang saya pakai ini termasuk sendal atau sepatu yah? ahk, tapi bukan itu yang ingin saya bahas, saya hanya tak habis pikir saja, hanya gara-gara sendal jepit kemarahan sang Bos begitu tinggi, hingga langsung mendeklarasikan peraturan baru dalam kantor.

Belakangan baru saya sadari, ternyata sang Bos pernah ditegur oleh pejabat tinggi di provinsi ini yang tidak suka melihat seorang jurnalis menggunakan sandal jepit saat bekerja, apalagi jika sang pejabat tersebut yang menjadi subjeknya. Bisa saya gambarkan, hubungan bos saya dengan pejabat tersebut sangat akrab, bahkan cukup akrab.

Singkat cerita, teman saya tersebut hingga saat ini tidak jelas keberadaanya, tidak ada yang tahu sejak ia bicara dengan sang Bos, keputusan apa yang di ambil, apakah teman saya tersebut dipecat atau di skorsing, yang jelas sudah seminggu lebih teman saya tersebut tidak nampak di Kantor untuk melaksanakan tugasnya kembali.

Kemarin saya dapat info jika, kantor sedang mencari orang untuk menempati posisi dimana teman saya tersebut pernah mendudukinya. Entah, apakah dia di pecat atau tidak, ketika saya coba untuk hubungi pun, teman saya masih menutup diri.

Kejadian ini mengingatkan saya pada satu momen, dimana senior saya dulu di Kampus pernah mengalami hal serupa. Ketika diundang oleh Pejabat yang sama yang menegur Bos saya tersebut tadi baru saja dilantik, senior saya tersebut diundang, namun karena senior saya itu punya ideologi sebagai perwakilan orang miskin yang selalu menggunakan sendal jepit, saat menghadiri acara tersebut diusir oleh petugas keamanan.

Setelah diusir, senior saya tersebut langsung mengirim pesan ke Pejabat bersangkutan, maklum senior saya itu termasuk orang yang punya andil memenangkan pejabat tersebut. Isi Pesannya itu kurang lebih.
“Pak, saya adalah perwakilan rakyat, yang tak punya cukup uang untuk membeli kerapian yang bapak elu-elukan, terima kasih telah mengundang saya, tapi maaf karena saya orang biasa yang bersandal jepit, saya di usir diacara pelantikan bapak,” tulisnya.

Hal ini pula mengingatkan saya kembali masa-masa kuliah dulu, dimana pernah seorang dosen mengusir saya dari ruangan karena bersandal jepit masuk kuliah. Pembelaan saya saat itu hanya “Apa bedanya ketika saya datang kekampus dengan menggunakan sepatu atau sandal jepit, bukan kerapian seseorang yang membuat bangsa ini pintar, jika saya menggunakan sepatu, adakah garansi saya mampu menerima semua ilmu yang diajarkan, ?”

Saya hingga saat ini tidak habis pikir, apa yang salah dengan sendal jepit?, kenapa bagitu hinanya dia dihadapan para pejabat atau orang yang memiliki jabatan. Padahal sendal jepit adalah simbol keterwakilan rakyat miskin, yang keberadaanya tak boleh dihilangkan di negara ini. Entahlah, padahal saya sangat senang menggenakan sendal jepit…:D
Enhanced by Zemanta

Gara-gara Sandal Jepit, Dipecat! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!