Namun satu yang unik, ketika melewati malam ramadhan di kota Anging Mammiri Makassar. Suasana yang penuh dengan nuansa islami, dimana disepanjang jalan rombongan muda-mudi dengan kopiah dan talkum berjalan beriringin, diselingi irama dangdut jalanan yang setiap malam memang muncul dihampir semua daerah ramai di Makassar.
Suara dentungan musik dangdut yang besar terkadang membuat gaduh suasan khusyuk di rumah-rumah ibadah. Namun anehnya, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan musik rakyat tersebut malah memberikan perhatian lebih ke pertunjukan tersebut, bahkan dengan senang hati memberikan sumbangan seadanya kepada para penyanyi-penyanyi berpenampilan seksi tersebut.
Makassar di bulan ramadhan, memang mewajibkan semua tempat hiburan malam, untuk tutup sebulan penuh. Situasi inilah yang membuat banyak pihak yang selama ini bergelut dengan dunia malam memutar otak untuk tetap memperoleh penghasilan menyambut lebaran sebagai wujud kemerdekaan dalam menjalankan ibadah sebulan penuh.
Dengan menggunakan mobil fikup sederhana, rombongan penyanyi dangdut jalanan ini menjalankan askinya. Sekitar dua speaker besar serta alat musik seperti piano elektrik lengkap dengan sang pemainnya, diiringi dengan gitar listrik yang juga berada satu paket dengan mobil tersebut.
Rombongan yang lebih mirip pengamen jalanan lengkap dengan banci kalengnya tersebut keliling dari lorong ke lorong, masjid ke masjid hingga masuk warkop ke cafe di Makassar. Satu persi lainnya, ada rombongan penyanyi dangdut jalanan yang benar-benar beraksi dengan jalan kaki.
Rombongan yang satu ini, memiliki massa yang cukup banyak dan sangat digemari oleh anak kecil. Lantaran, lakon penyanyi kebanyakan rombongan pejalan kaki ini, adalah seorang waria yang berpenampilan cukup seksi, selaras dengan suara fals-nya yang dipaksa kewanitaaan. Belakangan diketahui, penyanyi tersebut adalah penghuni taman pahlawan dan Karebosi malam-malam diluar ramadhan.
Sering kali para penyanyi yang mempertontonkan askinya dikeramaian, meliuk-liuk bagai ular kepanasan hingga mengaruk-garuk kegatalan seperti tikur kelaparan hingga sang penonton mengeluarkan selembar uang sebagai imbalan hiburan di bulan ramadhan. (Maklum, cuma seribu udah bisa "garuk-garuk", bulan ramadhan pula...!!!)
Selain aksi goyang dombret bahkan ngebor yang banyak dicintai manusia kekinian, aksi meletuskan kembang api juga menjadi penampilan fantastis rombongan tersebut. Bukan main, jika sekali itu dibunyikan, bisa menambah kebisingan lagu dangdut yang sengaja disetting dengan volume full.
Namun anehnya, Walikota setempat hanya mampu mengimbau aksi ribut-ribut dibulan ramadha tersebut dari selebaran kertas dan voice di radio-radio yang sering kali didengarkan rombongan tersebut jikalau istirakat nampil.
"Saudaraku, masyarakat Makassar, agar kiranya jangan melakukan tindakan-tindakan yang bisa menggangu ketentraman dalam beribadah di bulan ramadhan," katanya berpesan disalah satu iklan radion yang dibayar mahal persekali tayang.
Akhirnya, karena pemerintah juga dengan rela hati membiarkan keributan yang dibuat-buat tersebut, saya pun dengan senang hati menikmati dentungan lagu dangdut yang saat tulisan ini dibuat sedang beraksi dihadapan menyanyikan lagu "mana tahan...ahk....akh...akh.... mana tahan...". Seribu rupiah pun melayang....:D
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!