Terkadang kehadiran, lakon-lakon yang dipertontonkan memberi kesegaran tersendiri, apalagi ketika pulang dari keseibukan hari yang panjang, menyaksikan muka Sule yang sangar dengan paksaan lucu bahkan terasa garing, tetap saja gelak tawa yang tak ingin dimuntahkan, keluar juga, mengiringi tawa-tawaan orang yang menyaksikan adegan bayaran tersebut.
Sindiran Sule, kepada Ajis terkadang pedis, dan terlihat dari raut wajah,
bukan aksi panggung, begitu juga Andre dan Patro yang selalu menjadikan Ajis kambing hitam, hinaan dan cacian. Dasar uang, mampu membutakan nalar, Ajis dengan sekoyong-koyong pun hanya tinggal diam, tahu sedang dizalimi, tapi karena didepan kamera, dan amanah untuk membuat galak tawa para penonton, ihlas saja.
Bukan Ajis tanpa cacat, keseringan berbaur dengan para wanita bintang tamu bahkan Nunung sekalipun, dianggap biasa saja, dan anehnya lagi kita sebagai penonton setia acara yang disingkat OVJ tersebut juga menikmati dengan tawa yang membenarkan lakon tersebut.
Saya tak megerti adat, sejarah dan pembenaran terhadap agama, tapi yang saya tahu jika bergaul bahkan aksi peluk-pelukan denga wanita yang bukan muhrim dalam agama itu dilarang.
“Tapikan ini Indonesia, jadi bisalah, lagi pula ini toh untuk melucukan Indonesia,” mungkin lorohnya.
Bisa jadi, kemunculan OVJ ditengah-tengah rumah masyarakat Indonesia, untuk melengkapi lakon utama panggung Indonesia. Dimana, Indonesia tak mampu lagi membuat lucu wajah Malaysia yang terus meneror tidur malam-malam kita. Atau, OVJ hadir untuk membuat sandiwara, sindiran dari kakunya wajah Indonesia yang dipaksa lucu.
Bagi saya, ini bukan gambaran, ini realita, hidup ditengah Indonesia yang selalu dipaksa lucu walau wajahnya sudah tak memperlihatkan kelucuan diusia belia 65 tahun. “masih belia di 65 tahun, wah… hebat yah Indonesia, bukannya dewasa atau malah tua di 65 tahun, tapi tetap belia,” si A berkata.
Sindirin mungkin!, tapi saya mengharap lebih dari itu, jika Sule dan kawan-kawan bisa melucukan rumah Indonesia, kenapa tidak, wajah sangar Indonesia dijadikan badut saja, toh tak mampu juga berbuat apa-apa, hanya mampu melucukan rumah-rumah, bukan rumah ku.
0 komentar:
Post a Comment
Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!