Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

01 September 2010

Aku Ini Orang Malaysia

'Bendera Malaysia' Cupcakes

Akhir-akhir ini perseturuan antara Malaysia dengan Indonesia kembali memanas, kembali mengingatkan catatan-catatan hangat kedua negara serumpun ini. Kembali memposisikan saya sebagai pihak yang tak harus berbuat apa. Memang saya bukan orang Malaysia asli, tapi saya hidup Asli dari Malaysia, bukan mainan dan main-main.

Usia bermain ku saya habiskan di negara Sitti Nurhalisa tersebut, banyak kenangan tercatat disana, walau kini ku tak tahu lagi bagaimana rupa kampung pertama ku disana. Semua hanya bayang abu-abu yang kini mulai lagi ku pasang satu persatu.

Tersentak diri ku jika melihat aksi, ganyang Malaysia dipertontonkan ditelevisi, merinding jika melirik kehangat dalam diam kepura-puraan kedua negara. Sakit hingga rasa takut berkecamuk membayangkan perang terjadi antara keduanya. Ingatanku langsung tertuju pada satu Kawasan disana, dimana ditempat itulah kumulai mengenal kata demi kata, mulai mengenal warna demi warna bahkan mengenal jika Bendera ku adalah bendera penuh bintang dilangit biru.

Jika mendengar orang disekitar ku bicara  antara Malaysia dan Indonesia, ku melihat mereka bicara seakan Malaysia adalah pihak yang paling salah dalam kasus ini. (Sifat dasar manusia, membela hingga darah titik penghabisan jika apa yang dirasa miliknya sedang digangu orang lain, belakangan sifat ini dibekukan dengan kata Nasionalisme) Jika bisa digambarkan rasa ku saat itu, merinding setengah panas dan setengah dingin, disimpulkan penuh dengan kesetengah-tengahan.

Posisi ku tak bisa ku nalar saat ini, antara membela Indonesia  tempaktu saat ini tinggal diam dan hidup, atau membela Malaysia yang telah membuat ku hadir dan diam disini saat ini. Ngeri niang bayang ku jika membayangkan jikanya kedua negara ini saling adu kekuatan persenjataan. Tak tahu saya harus ada dimana.

Seakan tak ingin hadir sebagai manusia yang hidup diantara kedua negara ini, tak ingin tahu kata Indonesia dan Malaysia jika diposisika dalam situasi seperti ini. Saya sudah pulahan tahun di Indonesia, bahkan dalam tata kenegaraan, saya telah memiliki nomor pokok dan resmi sebagai warga negara. Tapi disatu sisi, jiwa bahkan nyawa ku masih berada di negara sebrang itu.

Dua orang yang telah membuat ku hadir disini dan menulisa saat ini disini, ada disana, sedang berjuang membela diri antara harus mengaku diri sebagai Indon (sapaan orang Malaysia kedapa masyarakat Indonesia) atau harus mengaku pribumi.

Pembelaan ini karena memang, orang termulia dalam hidup ku tersebut tidak terdaftar sebagai orang Indonesia, dan juga tidak secara resmi sebagai orang Malaysia. Nasib seorang perantau yang selama hidupnya hanya berada di rantauan.

Entah, harus menyalahkan siapa, Indonesia kah yang tidak terlalu peka terhadap nasib masyarakatnya hingga dengan rela hati membuang diri kenegara tetangga, atau harus menyalahkan Malaysia yang terlalu mengumbar materi sebagai janji kemakmuran hingga semua rela ternistakan. Entahlah?

Walau saat ini ku mengaku warnah ku hanya merah dan putih, tapi warna orang yang melahirkan ku penuh dengan kilauan bintang dengan biru langit sebagai penghiasnya. Tapi hidup ku disini penuh dengan kilauan bintang tersebut, makan, minum, tidur, bahkan untuk buang air ku disini dipenuhi dengan kilauan bintang tersebut.

Posisi ini mebuat ku tambah bingung, saya ini Bintang berlatar biru, atau hanya merah dan putih. Jika, aku hanya merah dan putih, mungkin dengan segenap tenaga yang kupunya akan menyayat-nyayat bintang-bintang itu, tapi jika disatu sisi ku bintang-bintang itu, hal yang sama mungkinkah akan ku lakukan juga.

Apa salahnya jika saat ini ku mengaku “Aku Ini Orang Malaysia”, dan apa untungnya jika saat ini ku mengaku “Aku Adalah Orang Indonesia”. Toh keduanya, hanya sebuah daratan yang ditinggali sekawanan manusia yang nantinya juga akan mati walau bukan dari perang.

Cita-cita kedua malaikat hidupku cukup mulia terniang setiap kali suaranya kudengar dari segengam teknologi kekinian. “Nak, sekolah-lah setinggi yang kamu bisa, hingga mati dinegeri orang ini pun akan ku upayakan untuk mu, jangan jadi seperti kami yang baca dan menulis pun tak mampu hingga hanya jadi budak orang-orang ini,” lirihnya dalam tangis perjuangan.

Kaki ku bisa jadi di Indonesia, tapi hidup ku ada disana. Jika keduanya perang, saya akan hidup sebagai apalagi, hanya disana, orang tua ku mampu bersua karena kalah dengan tingginya ego ke Indonesiaan ku. Akhirnya, ku paham tak kan ada yang dengar cerita ku ini, karena  Indonesia sangat benci Malaysia, Malaysia yang telah membuat ku hidup.

Tak apalah, saya kan bukan Obama yang perah tinggal di Indonesia dan menjadi kebanggaan kerena saat ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Saya hanya orang Indonesia yang kebetulan pernah tinggal di Malaysia. ***
Enhanced by Zemanta

Aku Ini Orang Malaysia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!