Menulislah, Sebagai Pertanda Kau Pernah Ada...

30 May 2009

Pelajaran yang Patut Dicontoh Negeri Ini


Sebuah cerita yang patut di contoh agar bangsa ini tidak lagi terpuruk.

Hsieh Kun-Shan lahir di Taidong, Taiwan 21 Juni 1958 dengan tubuh yang sempurna dan dalam kondisi yang sehat. Karena tekanan ekonomi, ia membantu ayahnya Xie Shu dan ibunya Zhang Guihua untuk mencari uang bahkan sejak ia masih kecil. Pada usia 12 tahun, Hsieh terpaksa harus berhenti sekolah dan menjadi buruh di pabrik garmen.

Di tahun 1974, pada saat ia berusia 16 tahun, Hsieh membawa tiang besi yang secara tidak disadarinya menyentuh kabel bertegangan tinggi.

Celakanya lagi, ia tidak menggunakan sandal sehingga seluruh tubuhnya menjadi konduktor listrik. Hsieh pun kontan terkena sengatan listrik yang membuatnya tak sadar diri selama 2 hari. Pada saat ia terbangun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua tangan dan kakinya hancur serta mata kanannya rusak. Mata kanan Hsieh akhirnya tidak bisa digunakan untuk melihat sama sekali ketika saudara perempuannya secara tidak sengaja memukulnya dengan jepretan pada saat hendak memperbaiki bukunya.

"Kehilangan anggota tubuh dan rasa sakit tidak membuatku lemah, namun hatiku hancur melihat air mata, keputusasaan dan ketakberdayaan ibuku". Demikian Penuturan Hsieh. "Aku hanya menambah penderitaan kepada perempuan yang hidupnya sudah penuh dengan duka. Ia harus merawat aku seperti bayi. Aku lalu membangunkan pikiranku, bahwa aku harus menjadi orang yang berguna dan tidak akan pernah membiarkan ibuku menangis lagi".

Begitulah tekad Hsieh. Dan ternyata perubahan dalam pikiran Hsieh tersebut telah membuat perbedaan besar. Hsieh pun berlatih untuk hidup dengan kekurangan fisiknya. Ia berlatih mengenakan celananya dan memandikan dirinya. Bahkan Hsieh menolak ketika teman-temannya mengajaknya untuk mengemis. "Tubuhku terkurung, namun pikiranku bebas". Begitulah keyakinan Hsieh. Akhirnya Hsieh memutuskan untuk memulai melukis.

Kenangan terhadap hobinya menggambari buku pelajaran hingga dimarahi guru telah memberinya gagasan. Ia pun mulai berlatih membuat sketsa dengan menggunakan pensil yang digenggam menggunakan mulutnya. Di saat usia 20 tahunan, setelah menggunakan kaki palsu, Hsieh bergabung dengan 2 orang rekannya untuk mendirikan studio yang menjual lukisan cat minyak.

Tekad Hsieh kuat telah menarik perhatian pelukis cat minyak terkenal Wu Ah-Sun yang ditemuinya dalam sebuah pameran. Wu akhirnya memberikan kuliah gratis melukis Hsieh dan ikut mempromosikan karya-karya Hsieh. Di kelas itulah Hsieh bertemu dengan calon istrinya, seorang wanita cantik bernama Lin Yeh-Chen. Pernikahan itu sendiri pada awalnya tidak disetujui oleh keluarga Lin.

Hsieh kemudian melanjutkan sekolahnya hingga Lulus SMU pada usia 30 tahun. Pada tahun 1987, Hsieh telah mendapatkan banyak penghargaan. Setiap bulannya ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar US $3.000. Bahkan lukisannya yang berukuran sedang bisa dijual seharga US $ 5.000.
Selain itu, Hsieh juga mendapatkan penghasilan dari mengajar. Kisah hidup telah menjadi legenda di Taiwan dan menjadi pelajaran untuk para siswa SD dan SMP.

Film tentang Hsieh sepanjang 30 episode pun diputar di televisi Taiwan dan negara-negara lain termasuk salah satu televisi lokal di Indonesia. Dalam serial televisi tersebut, Hsieh ikut memerankan dirinya setelah dewasa.

Pada tahun 2002, Hsieh menulis biografi yang kemudian menjadi buku wajib anak-anak setahun kemudian. Hsieh juga kerap diundang untuk menjadi pembicara dalam berbagi acara penting. Kini Hsieh mengabdikan dirinya untuk menolong lebih banyak orang. Sebagai contoh Hsieh menyumbangkan hasil penjualan lukisannya seharga 400 juta yang diperoleh melalui lelang pada saat berkunjung ke Indonesia tahun 2007 lalu. "Bagiku, tidak kesulitan dalam hidup. Yang ada hanyalah tantangan untuk dihadapi dan masalah untuk diselesaikan". Ujarnya sambil tersenyum di apartemennya yang ditata rapih oleh istrinya dan 2 orang putrinya.

"Aku selalu memikirkan sisi terang hidupku dengan mensyukuri apa yang masih aku miliki daripada meratapi yang sudah diambil dariku". Sungguh sebuah cara pandang yang telah mengubah takdir.Takdir dari seorang cacat tak berdaya menjadi seorang yang sukses, terkenal, dikagumi dan bisa menolong orang lain. Bahkan, mertua Hsieh pun sekarang bangga kepadanya karena menantu mereka ini benar-benar memiliki jiwa yang sangat kuat untuk menopang kehidupan putri kesayangan mereka itu.



Pelajaran yang Patut Dicontoh Negeri Ini Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Anonymous

0 komentar:

Post a Comment

Jangan Tinggalkan Jejak Kecuali Komentar Anda!